Rabu, 11 Februari 2015

Peduli Keberadaan Sungai, FTSP UII Gelar Diskusi Restorasi Sungai Indonesia

Kondisi sungai saat ini khusunya di wilayah perkotaan telah mengalami degradasi yang sangat cepat. Degradasi sungai tampak bagaimana dari sisi kualitas air juga dari sisi kerusakan fisik sungai itu sendiri. Sementara kerusakan fisik sungai saat ini terlihat dari luasannya yang semakin mengecil dan sudah semakin banyak yang erosi. Kondisi ini diantaranya dikarenakan keberadaan sungai sudah banyak tereksploitasi dengan urusan manusia, khusunya di wilayah perkotaan. Hal ini kemudian menyebabkan kualitas air menurun, keulaitas ekosistem menurun, kualitas fisik menurun dan semakin rusak.
Demikian diungkapkan Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) UII, Dr. Ing. Ir. Widodo Brontowiyono, M.Sc. pada pelaksanaan diskusi Restorasi Sungai Indonesia, yang diadakan di Gedung Auditorium FTSP UII, Rabu (11/2). Turut hadir pada diskusi yang mengangkat tema “Mewujudkan Satu Sungai Satu Kelembagaan Sebagai Tahap Penting Restorasi Sungai Indonesia”, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Serayu-Opak, Dr. Agus Suprapto, pemerhati dan penggiat Sungai Code Totok Pratopo, Dosen FH UII Zairin Harahap, SH, MH. serta dari berbagai komunitas pegiat sungai di Wilayah DIY.
Dikatakan Dr. Widodo Brontowiyono, model pengelolaan sungai yang dilakukan seperti di wilayah DIY saat ini masih lebih cepat bila dibandingkan dengan proses kerusakannya. Selain itu, fenomena yang terjadi saat ini adalah sungai-sungai kecil terutama yang berada di wilayah DIY belum sepenuhnya mendapatkan perhatian dari pihak pemerintah. Hal tersebut menurut Dr. Widodo Brontowiyono sebenarnya dapat diatasi bila pola kerjasama antara pusat dan daerah dapat terlaksana dengan baik.
Merujuk pada PP No 38 Tahun 2011 tentang sungai, pengelolaan sungai di Indonesia dilakukan berdasarkan pembagian wilayah sungai. Sesuai peraturan tersebut, menurut Dr. Widodo Brontowiyono satuan wilayah sungai di DIY ditetapkan menjadi bagian dari Wilayah Sungai (WS) Serayu Opak. Sungai Serayu Opak mengalir melewati dua wilayah propinsi sehingga pengelolaan kedua sungai tersebut menjadi wewenang pemerintah pusat, yaitu Kementerian PU-PERA melalui BBWS-SO.
Fenomena lain di lapangan adalah besarnya perhatian masyarakat terhadap berbagai masalah yang terjadi di sungai melalui komunitas pegiat sungai. Kelompok-kelompok masyarakat tersebut selama ini menjadi pilar dalam berbagai kegiatan konservasi, pendayagunaan, dan pengendalian daya rusak. “Kehadiran komunitas tersebut sebenarnya sangat membantu tugas pemerintah dalam melakukan pengelolaan sungai. Persoalan yang timbul saat ini adalah komunitas tersebut tidak memiliki kekuatan hukum dalam konteks pengelolaan sungai,” paparnya.

Mahasiswa UII Diharapkan Aktif Jalin Hubungan dengan Komunitas Akademik ASEAN

Gaung bergulirnya Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 semakin menguat seiring dengan semakin dekatnya kesepakatan regional tersebut diimplementasikan. Dalam MEA 2015 tidak hanya ditekankan pada penguatan kerjasama ekonomi, namun aspek lain yang juga ditonjolkan adalah kolaborasi pengembangan bidang pendidikan dan kebudayaan di antara sesama negara ASEAN. Oleh karena itu, sudah menjadi keniscayaan bahwa para pelajar dan pemuda ASEAN dituntut untuk aktif dalam menjalin hubungan dengan rekan mereka di negara ASEAN lainnya. Hal tersebut dapat diupayakan lewat berbagai cara, salah satunya adalah terjun dalam konferensi pelajar dan pemuda ASEAN yang rutin diselenggarakan setiap tahunnya oleh pemerintah di tiap negara ASEAN secara bergilir.
Sebagaimana telah dilakukan oleh para mahasiswa UII yang aktif menyambut peluang ini. Beberapa mahasiswa UII belum lama ini mengikuti konferensi serupa yang diadakan di dua negara ASEAN, yakni Malaysia dan Filipina. Keterlibatan mereka dalam konferensi tersebut bukan sekedar untuk menambah catatan portofolio, melainkan sebagai bentuk kontribusi para pemuda Indonesia dalam kegiatan pengembangan dan pemberdayaan kapabilitas pemuda di tingkat ASEAN.
Empat orang mahasiswa UII yakni Jaka Farid Agustian, Sindi Novriana, dan Noer Ayufika Nulul dari Prodi Ilmu Komunikasi serta Roslifa dan Asrah Wadjo dari Prodi Psikologi menjadi salah satu perwakilan Indonesia dalam konferensi pemuda bertajuk “Forging 1-ASEAN Youth Network Through Volunteerism”. Konferensi tersebut merupakan bagian dari Asean University Youth Summit (AUYS) 2015 yang diselenggarakan di Universiti Utara Malaysia.
Selama konferensi, keempatnya aktif mengikuti kegiatan diskusi dengan para peserta lainnya serta terjun dalam Community Engagement Programme ke sekolah-sekolah yang berada di FELDA Bukit Tangga yang merupakan sebuah Desa Binaan Universiti Utara Malaysia.
Menurut dua orang mahasiswa UII, Jaka Farid Agustian dan Roslifa, sudah saatnya mahasiswa Universitas Islam Indonesia berani untuk aktif dalam pergaulan komunitas akademik di level ASEAN. Selain sebagai bentuk internasionalisasi kampus, hal ini tentunya sangat positif karena mereka dapat memperluas networking dan menambah pengalaman yang kelak dapat bermanfaat di dunia kerja.
“Kami berharap ke depan UII pun dapat memfasilitasi kegiatan-kegiatan akademik yang melibatkan negara-negara ASEAN serta terus mengembangkan kerjasama dengan universitas-universitas di ASEAN”, ungkap keduanya.
Jadi Presentator dalam Konferensi Pelajar ASEAN di Manila, Filipina
ImageTerpisah, pengalaman menarik diperoleh oleh mahasiswa UII ketika ia didaulat menjadi salah satu presentator dalam ajang ASEAN Youth Summit (AYS) yang digelar di Kampus De La Salle University, Manila, Filipina. Dalam konferensi yang diikuti 250 delegasi pemuda ASEAN tersebut, M. Masri Hadiwijaya, mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi UII mewakili kelompoknya untuk mempresentasikan hasil diskusi mereka terkait tema penguatan kapasitas pemuda ASEAN.
Ke depan keterlibatan aktif para mahasiswa UII dalam ajang positif semacam ini perlu terus didorong oleh segenap stakeholder di lingkungan UII, baik oleh pimpinan universitas, fakultas, maupun prodi. Sebab dalam konteks internasionalisasi pendidikan, UII harus dapat menunjukkan kontribusi positif dari para sivitas akademikanya untuk berdiri sejajar dengan universitas ternama lainnya di level ASEAN.

Selasa, 10 Februari 2015

Teknik Fotografi Malam atau Pada Cahaya Rendah

Ada beberapa teknik fotografi digital untuk malam hari dan pada cahaya rendah. Gunakan  fitur built-in kamera digital anda untuk mengambil foto dramatis dalam kondisi gelap atau cahaya rendah. Sebelum memulai memotret pada malam hari atau pada saat cahaya rendah, berikut adalah beberapa hal yang paling penting untuk diingat:

    Non-aktifkan flash

Membawa keluar detail yang menakjubkan dalam kondisi cahaya rendah dengan menggunakan long exposure (waktu yang dibutuhkan kamera untuk mengumpulkan cahaya) kemudian pilih Flash dari menu capture, lalu pilih Flash off. Tekan Menu / Ok.

    Gunakan tripod

Eksposur panjang atau long exposure membutuhkan sebuah pegangan kokoh pada kamera untuk menghindari blur. Sebuah tripod sangat membantu. Jika tidak mempunyai atau tidak membawanya, anda dapat mencoba bersandar pada obyek yang kokoh seperti pohon, atau dinding.

    Gunakan timer

Meskipun ketika kamera menggunakan tripod, saat jari menekan tombol shutter, ini dapat menyebabkan gerakan yang cukup untuk membuat kamera bergoyang dan menghasilkan gambar blur. Anda dapat menghindari menyentuh kamera sama sekali dengan menggunakan timer. Pilih Timer dari menu capture lalu tekan Menu / Ok. Saat ingin mengambil gambar, anda harus menyesuaikan pengaturan kamera. Kunci untuk mendapatkan gambar yang bagus saat malam atau pada cahaya rendah adalah dengan bukaan lebar, ISO rendah, dan shutter speed rendah.

    Shutter Speed

Karena tidak menggunakan flash, shutter speed harus jauh lebih rendah untuk mendapatkan cahaya yang cukup. Pilih mode pemotretan baik Tv (shutter priority) atau M (Manual) pada kamera untuk menyesuaikan shutter speed. Shutter speed terendah pada kebanyakan kamera berkisar dari beberapa detik untuk pengaturan “bulb” (shutter tetap terbuka selama yang diinginkan). Beberapa kamera digital mempunyai fitur pemotretan modus malam. Ini secara otomatis menonaktifkan flash dan menggunakan waktu eksposur yang lama.

    ISO

ISO pada kamera menentukan kepekaan terhadap cahaya. ISO yang lebih tinggi akan membuat kamera anda lebih sensitif terhadap cahaya, tetapi akan menambah grain lebih banyak atau noise pada foto. Jika kamera anda terdapat pengaturan ISO, aturlah pada angka rendah(sekitar 50,100 atau 200) untuk detail tajam dalam cahaya rendah. Pengaturan ini akan sedikit meningkatkan waktu exposure, tetapi akan menghasilkan foto yang jauh lebih baik.

    Bukaan atau Aperture

Jika kamera anda memiliki settingan manual, anda dapat memperluas bukaan untuk memungkinkan banyaknya cahaya masuk melalui lensa kamera yang sangat penting saat malam hari atau ketika tidak ada banyak cahaya. Pilih mode pemotretan baik Av (Aperture Priority) atau M (Manual) pada kamera untuk menyesuaikan bukaan / aperture. Bukaan terlebar untuk kebanyakan lensa adalah F2.8.

Spot Metering



           Selanjutnya sobat ada spot metering. Sobat pasti tahu kamera analog apa yang menggunakan jenis metering ini, yaitu Pentax Spotmatic SPSpotmatic SP II dan Spotmatic SPF. Kamera analog Pentax dengan lensa screw mount (ulir) ini diproduksi pada tahun 60an dan 70an, sebelum Pentax K mount bayonet (K1000, KM, K2, KX) muncul. Namanya diambil darireflective metering yang digunakannya. Sebenarnya Partial metering dan Spot metering beroperasi dengan basic yang sama, yaitu cahaya di bagian yang jauh lebih kecil dari objek gambar (biasanya tengah) diukur dan exposure diatur berdasarkan bacaan tersebut. 
  • Spot metering mengukur cahaya di daerah yang sangat kecil dari frame. Umumnya mungkin 1-5% tepat di pusat gambar, sedangkan partial 10-15%. Hanya itu perbedaan di antara keduanya.
  • Keunggulan reflective metering jenis ini adalah mengukur cahaya yang sangat akurat karena tidak akan dipengaruhi oleh cahaya lain di dalam frame.  
  • Bila sobat menggunakan kamera dengan jenis metering ini, sobat akan mendapatkan kontras yang tinggi/bagus dan exposure yang lebih spesifik. 
  •  Oleh karena itu, bila sobat memotret bulan atau benda-benda yang ada di langit lainnya menggunakan kamera dengan jenis metering ini, hasilnya akan bagus karenaexposure yang dihasilkan sangat akurat.
Kapan menggunakan Spot metering?
       Spot metering biasanya banyak digunakan oleh fotografer profesional, terutama dalam keadaan back lit tanpa hasilnya menjadi silhouette (siluet). Spot metering juga digunakan untuk objek yang relatif berjarak jauh atau biasanya digunakan untuk fotografi makro, terutama jika objek tidak mengisi seluruh frame. Akan tetapi sobat harus benar-benar memperhatikan jika menggunakan jenis reflective metering ini, karna walaupun sobat mendapatkan gambar dengan objek yang terekspos dengan baik, sobat juga bisa kehilangan sisa dari jepretan. Beberapa contoh momen yang baik jika menggunakan spot metering akan admin berikan. Cahaya pada objek sobat merata dan menyala tetapi lebih bagus jika objek sobat kontras warnanya. Misal, sobat memotret anjing berwarna putih dengan background gelap atau orang memakai pakaian hitam berdiri di depan gedung berwarna putih. Contoh yang paling baik, yakni terang bulan pada malam hari dengan latar belakang langit yang sangat gelap. Jika sobat menggunakan matrix metering untuk menangkap bulan dalam situasi demikian, yang akan sobat dapatkan adalah lingkaran putih terang tanpa detail apapun. 
       
    Contoh kamera analog yang menggunakan spot metering dapat ditemukan di: 
    • Pentax Spotmatic SP, SPII, SPF, ZX-5N, MZ-S
    • Minolta Auto Spot 1, Minolta SR-T 102, XG-1
    • Nikon F4, F5, F100, N70, N75, N80, N90
    • Canon A2E, Canon T90
    • Olympus Om-4
    • Soligor
    • Seconic  
    • Gossen.

      contoh Spot metering kamera analog
      Contoh Spot Metering

      contoh pembacaan Spot metering kamera analog
      Pembacaan Spot Metering

            Jadi secara keseluruhan kamera analog memiliki empat pembacaan reflective metering yang berpengaruh di dalam penggunaan light meter dan mendapatkan exposure yang baik. Pembacaan tersebut adalah evaluative, center weighted, partial dan spot metering.

      macam-macam reflective maatering kamera analog


             Center-weighted, partial dan spot metering, ketiganya mengambil pembacaan exposure dari pusat frame. Hal tersebut mengingat bahwa kebanyakan fotografer selalu menempatkan objek mereka di tengah frame. Bila sobat ingin belajar mendapatkan komposisi yang bagus, mungkin ketiga pembacaan tersebut bisa diandalkan. Untuk mendapatkan komposisi yang bagus tidaklah mudah sobat. Akan tetapi sobat jangan sampai terjebak dan selalu menempatkan objek di pusat frame, karena sobat masih dapat mengeksplor kemampuan sobat dengan menempatkan objek di lain tempat. Sedangkan evaluative metering dikembangkan oleh produsen kamera untuk memudahkan kita mendapatkan exposure dengan objek di tengah frame. Kamera akan membagi viewfinder menjadi zona-zona dan membandingkan pembacaan exposure dari setiap zona dan menyarankan pengaturan exposure yang harus digunakan.

      Partial metering

       Partial Metering
      •  Pengukuran cahaya dengan jenis reflective metering ini menganalisis dan mempertimbangkan cahaya di daerah yag lebih besar dari objek sobat, sekitar 10 atau 15 % dari frame. Berawal dari pusat bagian depan dan melebar ke luar.
      •  Reflective metering jenis ini sangat bagus bila sobat gunakan ketika mendapatkan momen dengan kontas yang tinggi. Misalnya, objek yang sobat foto adalah orang yang berdiri membelakangi sunset dimana berarti menghadap sobat dan sunset sebagaibackground. Dalam situasi demikian, cahaya sunset akan ekstra terang dan sebaliknya wajah objek foto sobat akan jauh lebih gelap karena back light. Bila sobat menggunakan kamera analog yang menggunakan partial metering, sobat akan bisa  mendapatkan pembacaan di wajah objek tanpa metering kamera sobat dipengaruhi oleh cahaya sunset yag terlalu cerah.  
      Contoh kamera analog yang menggunakan partial metering ditemukan di:
      • Nikon N50, N55, N60, N65
      • Partial Metering paling banyak ditemukan pada Canon, seperti Canon F-1, Canon Elan II E, Elan 7 E dll

        Center Weighted Metering



             Seperti yang telah admin jelaskan di atas, bahwa Nikon adalah pelopor dari kamera analog yang menggunakan Center Weighted Metering sejak tahun 1960-an dan diikuti oleh kamera-kamera analog lainnya. Terutama kamera analog full manual yang menggunakan pembacaan jenis ini. Dengan sistem ini, exposure dihitung berdasarkan intensitas cahaya di pusat area gambar. Pembacaan ini sangat handal bila menggunakan lensa standar, dengan asumsi objek menempati daerah pusat frame. Pembacaan ini hampir sama dengan matrix metering, tetapi pembacaannya dilakukan dari area yg lebih kecil/sempit. 
        • Pembacaan reflective metering ini memfokuskan diri sekitar 60-80% pada bagian pusatviewfinder, sisanya area yang berada di pinggir frame akan dikesampingkan.
        •  Keuntungannya adalah pembacaan ini tidak dipengaruhi oleh kedaan langit dan area kecil di sekitar tepi ftrame yang memiliki tingkat kecerahan beragam.
        • Gunakan kamera dengan pembacaan jenis ini bila sobat ingin mengambil gambar close-up atau objek yang relatif besar/lebar yang berada di tengah frame.
        Kapan harus menggunakan Center-weighted metering?
               Center-weighted metering sangat baik digunakan bila sobat ingin mengambil gambar close-up dan portrait dimana objek relatif lebar. Sehingga metering melakukan pembacaan dengan menitik-beratkan langsung pada objek dan mengurangi pengeksposan pada backgroundReflective metering jenis ini lebih mudah untuk diprediksi daripada evaluative/matrix metering sehingga sobat akan mendapatkan hasil yang loebih konsisten. Misal contoh momennya, bila objek yang sobat ingin ambil tertembak oleh cahaya penuh dari matahari dan sobat ingin fokuskan hasilnya di objeknya, seketika pula kontras yang tinggi akan sobat dapatkan di objeknya dari background-nya. 
          Contoh kamera analog dengan center weighted metering ditemukan di:
          • Nikon FM, Nikon FM2 non honeycomb, Nikon F2 Photomic, FG, FE, F3, F4, F5 
          • Canon T70, Canon A-1
            contoh Center weighted metering kamera analog
            Contoh Center Weighted Metering

            POengertian Evaluative



                Evaluative, terkadang disebut juga pattern, multi-segment atau matrix metering. Pembacaan matering ini bekerja dengan membagi scene menjadi banyak segmen yang berbeda-beda dan menganalisis pembacaan cahaya dari masing-masing segmen untuk mencapai exposure terbaik. Contoh kamera analog yang menggunakan reflective metering jenis ini, yaitu Nikon FA dan kamera-kamera analog yang memiliki shutter honeycomb
            • Pembacaan metering ini adalah reflective metering standard yang ada di hampir semua kamera analog yg sudah ada elektroniknya, sebelum Nikon membuat Center Weighted Metering, karena paling mudah untuk digunakan.
            • Reflective metering ini mempertimbangkan intensitas cahaya di beberapa titik dalam scene, dan kemudian menggabungkan hasilnya untuk exposure terbaik. 
            • Pada kamera analog pembacaan ini  terkait dengan titik fokus pada saat kita ingin mengambil gambar dari sebuah objek. Sehingga kamera nantinya akan membias metering menuju daerah di sekitar titik fokus. 
            • Evaluative metering sangat mampu dalam melakukan pembacaan, bahkan dapat memperhitungkan warna dan jarak objek. Akan tetapi terkadang salah melakukan pembacaan dalam kebanyakan situasi.  
            • Kamera analog dengan pembacaan ini sangat bagus untuk landscape dan portrait.  
            Kapan harus menggunakan Evaluative/matrix metering?
                   Evaluative/matrix metering baik digunakan jika sobat mendapatkan momen dimana cahaya terlalu mencolok sehingga sobat agak bingung dalam menggunakan light meter. Jenis reflective metering ini juga sangat baik digunakan jika sobat membutuhan pembacaan metering dan menangkap gambar dengan cepat, karena evaluative metering bekerja menggunakan zona-zona.
              Contoh kamera analog dengan evaluative metering ditemukan di:
              • Canon FT, FT QL, FTB, A-1, AT-1, AE-1 dll
              • Nikon FA, Nikon FM2 honeycomb, FM3A honey comb, F4, F5, F100 dan semua Nikon SLR AF
              • Leica R8 
                contoh matrix matering pada kamera analog
                Contoh Evaluative/matrix metering

                Mengukur cahaya dan mengontrol eksposure



                        Selanjutnya yang perlu kita perhatikan saat menggunakan light meter, yakni kita harus bisa mengukur cahaya. Wah admin, berarti yang pakai kamera analog hebat dong bisa mengukur cahaya. Di dunia ini kan tidak ada yang bisa mengalahkan kecepatan cahaya, bagaimana ngukurnya admin? Dalam menggunakan kamera analog mengukur cahaya itu penting sobat. Namanya juga Light Meter, alat bantu untuk mengukur cahaya yang masuk ke kamera analog. Karena hal ini yang akan menentukan shutter speedaperture dan ASA yang sobat gunakan untuk mendapatkan exposure yang tepat. Secara umum, terdapat dua pengukuran cahaya yang masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan:

                1. Incident metering, Untuk mengukur cahaya yang jatuh ke objek dengan menggunakanlight meter menghadap ke kamera. Metering ini tidak peduli seberapa banyak cahaya yang dipantulkan dari objek. Sobat harus mengukur cahaya yang berasal langsung dari matahari (bila outdoor) dan membias ke objek. 
                • Kelebihannya, memberikan pengukuran cahaya yang lebih akurat karena menangkap jumlah pasti cahaya yang datang dari sumber cahaya yang menerangi objek.
                • Kekurangan,  pengukuran ini sangat tergantung dengan jarak sobat (distance). Light meter harus berada pada posisi yang sama dan objek foto menjadi acuan jarak yang digunakan. Hal ini sangat sulit bila kita berada dalam situasi pemotretan atau sedang melakukan fotografi landscape dimana jarak dari objek terbatas.

                      2. Reflective Metering, mengukur cahaya yang dipantulkan oleh objek foto. Semua kamera TTL (Through The Lens), termasuk analog menggunakan prinsip reflective metering
                • Kelebihan, memberikan pengukuran cahaya yang cepat dan mudah dari objek foto untuk mendapatkan exposure umum dengan kamera analog sobat.
                • Kekurangan, Objek yang memiliki warna lebih terang pada light meter sobat, mencerminkan terlalu banyak cahaya. Sehingga sobat akan mengalami overexposure. Jika terdapat sejumlah cahaya yang mendominasi atau objek dengan warna terang,reflective metering akan "tertipu" dan tidak akan memperhitungkan perbedaan pantulan antara warna terang dan warna gelap, maka sobat akan mengalami underexposure dan hasilnya agak datar. 
                 Reflective metering inilah yang akan menggerakkan light meter kamera analog sobat dengan menganalisis jatuhnya cahaya di objek yang menjadi fokus sobat. Kemudian reflective meteringdapat dibagi lagi menjadi 4 (empat) jenis opsi reflective metering TTL yang ada di kamera SLR analog sobat. Setiap jenis memiliki spesialisasi sendiri yang mempengaruhi jatuhnya cahaya. Dalam keadaan sadar, kita sering kali tidak memperhatikan keempat jenis reflective metering ini. Kenapa admin? karena letaknya ada di viewfinder dan mengarah langsung ke lensa. Yang kita perhatikan biasanya hanya melihat metering, atur zooming, bukaan, speed dll. Padahal masing-masing kamera SLR analog memiliki reflective metering yang berbeda-beda.

                Mengenal karakteristik cahaya

                Light Meter Menurut Pengukuran Cahayanya

                              Selanjutnya sobat, admin akan coba jelaskan bagaimana menentukan exposure yang tepat dengan menggunakan bantuan light meter. Untuk sobat-sobat yang baru belajar menggunakan kamera analog, admin sangat merekomendasikan penggunaan light meter. Kenapa? karena di sini sobat nantinya akan belajar mana shutter speed/ASA/aperture yang digunakan dalam menentukan exposure untuk kondisi cahaya yang berlainan. Setelah sobat telah menguasai teknik penggunaan light meter, cobalah untuk mengambil gambar tanpa menggunakannya atau matikan saja light meter kamera analog sobat dengan mencabut baterainya. Kemudian gunakanlah feeling sobat di setiap kondisi cahaya yang berbeda. Sobat akan menemukan asyiknya memakai kamera analog full manual. Di samping itu sobat, rata-rata fotografer kamera analog yang sudah handal tidak akan pernah lagi menggunakan light meter karena felling mereka benar-benar sudah terasah. "Just use your felling to make a true exposure"
                         Untuk menjadi fotografer kamera analog yang handal, sobat harus bersabar dan mulailah dahulu dengan menggunakan light meter. Penggunaan light meter untuk pemula juga membantu sobat untuk mengirit roll film. Tapi jangan takut menghabiskan ber-roll-roll film kalau sobat mau handal nantinya.

                Mengenal karakteristik cahaya 

                          Terus gimana admin cara pakai light meter yang benar? Sabar dulu sobat, sebelum kita menggunakan light meter ada baiknya kita mengenal dulu berbagai macam karakteristik cahaya. Kok jadi cahaya sih admin? Karena fotografi itu sesungguhnya adalah "seni dalam proses menghasilkan  gambar/foto oleh aksi dari energi radiasi dan terutama cahaya pada permukaan objek yang sensitif". Untuk menjelaskan hal ini, admin akan coba mengkombinasikannya dengan Teori QuantumMenurut teori ini, cahaya adalah nama untuk berbagai radiasi elektromagnetik yang dapat dideteksi oleh mata manusia. Jadi, artinya bahwa cahaya itu partikel dan gelombang yang bergerak melalui ruang dan memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Berikut karakteristik cahaya:

                • Panjang gelombang, hal ini akan menghasilkan warna cahaya yang berbeda-beda;
                • Amplitudo, akan mempengaruhi kecerahan cahaya;
                • Polarisasi, sudut cahaya.
                         Ketiga karakteristik cahaya di atas  nantinya akan mempengaruhi light meter kamera analog sobat. Misalkan sobat memotret jalanan di siang hari, light meter akan menunjukan exposure yang berbeda dengan ketika sobat mengambil gambar di pegunungan pada siang hari juga. Mengenal Tingkat kecerahan, sudut cahaya dan warna cahaya juga akan mempengaruhi nuansa/efek gambar yang sobat hasilkan. Hal ini pun akan berguna ketika sobat sudah tidak memerlukan bantuan light meter

                Mengenal Bentuk Light Meter



                                 Apa sih light meter itu admin? Jadi sobat-sobat yang disebut light meter adalah sebuah alat bantu yang ada di kamera analog untuk mengukur intensitas cahaya. Light meterpada kamera analog tipe SLR umumnya terbagi menjadi dua bentuk, ada yang berbentuk jarum dan ada yang berbentuk lampu indikator. Di mana letaknya admin? Coba sobat lihat saja melaluiviewfinder kamera analog sobat, letaknya biasanya ada di sisi kiri atau sisi kanan. Sedangkan pada kamera jenis rangefinder (RF), light meter kebanyakan menggunakan selenium meter atau selenium cell, akan tetapi ada juga yang sudah berbentuk jarum. Nah taukah sobat kamera SLR film 35mm apa yang pertama kali menggunakan light meter? dan siapakah pembuatnya? Apa bedanya dengan light meter pada kamera SLR 35mm yang lain? Kamera SLR 35mm yang pertama kali menggunakan light meter adalah Nikon F yang diproduksi pada tahun 1959-1974 oleh Nippon Kogaku K.K (sekarang Nikon Corporation sejak 1988). Nikon F pertama yang telah dirancang  menggunakan light meter yakni Nikon F Photomic T, Photomic Tn dan Photomic FTn. Metering yang digunakan Nikon F adalah sebuah exposure meter yang menggunakan sensor eksternal. Perbedaan metering Nikon F dengan kamera SLR 35mm lainnya adalah apabila pembuat kamera lainnya pada saat itu membuat sensor eksternal yang hanya terhubung dengan shutter speed, untuk mengoptimalkan utilitas, Nikon merancang sistem sensor eksternal yang dihubungkan dengan aperture dan shutter speed. Setelah teknologi metering pindah ke sistem TTL (melalui lensa), Nikon mengembangkan sistem  "Center-Weighted Metering" yang berkonsentrasi pada sensitivitas di pusat frame, sehingga gambar contohnya tidak akan terlalu dipengaruhi oleh kondisi langit. Sistem ini akhirnya menjadi standar sistem metering TTL dan diikuti oleh kamera-kamera lain. 

                contoh lightmeter kamera analog berupa jarum
                contoh lightmeter berupa lampu indikator pada kamera analog

                Contoh Bentuk Light Meter

                Menentukan Exposure tanpa Light Meter

                ntuk sobat yang baru belajar atau sudah bisa menentukan exposure tanpa light meter tapi masih bingung, semoga tulisan ini bisa memberikan inspirasi. Bila sobat kebetulan sedang berada di luar ruangan (outdoor), terus tiba-tiba light meter kamera analog sobat mati, sobat sekalian tidak usah bingung dalam menentukan exposure. Masih ada cara lain agar exposure yang kita inginkan tepat pada tujuan. caranya adalah dengan menggunakan "Sunny day 16 rule". Apa sih Sunny day 16 rule itu admin? Berikut ini contohnya sobat.

                contoh sunny 16 rulecontoh sunny 16 rule dengan kondisi awan

                                
                               "Sunny day 16 rule" ini bisa sobat buat sendiri. untuk menggunakannya, sobat tinggal lihat patokan ASA film yang dipakai sebagai shutter speed dan f/16 sebagai f/stop (aperture) dimana kondisi cahaya matahari ketika sobat ingin mengambil gambar cerah dengan bayangan yang jelas dan tajam. Hal ini terlihat dengan posisi matahari berada di belakang fotografer. Silahkan lihat gambar di atas sobat. Jika Matahari sudah agak kabur tetapi masih ada bayangan, sobat harus membuka 1f/stop misal menjadi f/11. Lain lagi jika cuaca mendung tapi masih terang (tidak ada bayangan) dan matahari tertutup awan, sobat membutuhkan 2f/stop yakni f/8. Kalau cuacanya mendung tapi teduh aperture-nya adalah 3f/stop yaitu f/5.6. Intinya sobat harus belajar mengenal dan peka terhadap perubahan cuaca dan matahari. 

                Film Speed



                             Ada satu variabel lagi yang sangat penting sobat dalam menentukan exposure. Variabel tersebut adalah kecepatan (kepekaan terhadap cahaya) film. Film speed pada kamera analog biasanya ditulis ASA (ISO) dan dinyatakan dalam angka. Satuan ASA adalah angka. Coba cek kamera sobat dan lihat tulisan yang ada ASA-nya. ASA ini berfungsi untuk meningkatkan sensitivitas peningkatan cahaya yang langsung terlihat pada angka-angka ASA di kamera sobat. Setiap kamera analog memiliki angka ASA yang berbeda-beda (cek seberapa sensitifkah kamera sobat). Penggunaan angka ASA ini sangat tergantung dengan kondisi cahaya yang sobat rasakan, dimana nantinya setiap ASA yang sobat pakai langsung berpengaruh ke tingkat kecerahan tiapscene/frame film. Makin tinggi ASA yang sobat pakai, makin sedikit cahaya yang sobat butuhkan untuk mencapai tingkat kecerahan tertentu. Faktor pengali "satu stop" adalah 2x. Sehingga ASA 64 dua kali lebih sensitif terhadap cahaya dibandingkan ASA 32 dan sekitar setengah sensitif ASA 125. ASA 800 akan lebih terang dua kali dibandingkan ASA 400. Jadi semakin tinggi ASA, semakin brightness gambar yang sobat dapatkan. Jika sobat menggunakan light meter, pastikan untuk mengatur meter ke ASA yang sobat gunakan sebelum mengambil gambar. Nah kalau kamera sobat ada DX kode itu akan memudahkan sobat untuk mengatur ASA yang tepat untuk kemera sobat. Sobat tinggal cari film yang ada DX coded film-nya. Jadi kamera akan tahu ASA berapa yang harus digunakan. Masalah ini nanti akan admin bahas lebih dalam pada pembahasan film dan format film. Kira-kira seperti gambar di bawah ini bentuknya.



                Contoh DX kode

                contoh DX kode di klise film kamera analog 

                DX kode pada roll film kamera analog 

                Rumus Exposure

                Contoh-contoh Aperture lensa kamera analog


                        f/        1.4         2     2.8     4     5.6     8       11    16   22

                Skala f/stop di atas  menunjukkan penurunan intensitas (I) jika dibaca dari kiri ke kanan
                sec. 1/1000  500 250 125  60  30   15   8  4    2    1

                               Skala  Shutter speeds di atas menunjukkan peningkatan waktu (T) kalau sobat baca dari kiri ke kanan. Jika sobat menempatkan skala f/stop dan shutter speeds bersamaan, maka waktu (T) akan meningkat tetapi intensitas menurun dan sobat akan menemukan bahwa sobat memiliki beberapa pilihan opsi yang semuanya akan menghasilkan exposure yang sama.

                Sebagai Contoh:
                f/ 1.4    2   2.8    4  5.6    8   11   16    22
                1/1000  500   250  125   60   30   15    8     4    2    1   sec.
                 
                 
                           Jika sobat memaksudkan exposure yang tepat untuk 1/60 pada f/5.6, maka setiap kombinasi pengaturan yang berdekatan di atas juga merupakan exposure yang tepat. Pada saat 1/125 sec itu berarti adalah setengah waktu (T) dan f/4 adalah dua kali intensitas yang dihasilkan, sehingga exposure-nya menjadi sama. 1/4 sec di f/22 juga exposure yang tepat untuk situasi ini. Jadi pada saat sobat meningkatkan waktu dalam proporsi yang sama, secara bersamaa sobat juga akan menurunkan intensitas. Coba sobat geser-geser skala f/stop+shutter speed pada tingkat cahaya yang berbeda, sobat akan menemukan beberapa pilihan opsi mana kemungkinan exposure yang tepat:
                              1.4    2  2.8    4  5.6    8     11   16   22
                1/1000  500   250  125   60   30   15    8      4    2    1   sec.

                Exposure Controls



                          Apa sih exposure itu admin? Exposure adalah kemampuan sebuah kamera dalam menangkap dan mengatur intensitas cahaya yang masuk ke medium film. Biasanya untuk membantu fotografer mendapatkan exposure yang tepat digunakan lightmeter (dapat berupa jarum/lampu indikator). Selanjutnya kamera akan melihat scene/frame dan mengatur exposureuntuk setiap scene/frame yang digunakan. Exposure juga dipengaruhi oleh apertureshutter speeds dan ASA. Ketiga komponen ini nantinya akan membentuk yang disebut dengan exposure. Pada kamera analog, terdapat dua mode eksposure. Ada kamera analog yang menggunakan mode exposure manual dan exposure otomatis (AE=automatic exposure, AE program, aperture priority dan shutter speeds priority).  Coba lihat mode exposure apa yang kamera sobat pakai.
                           Jadi sobat, exposure itu adalah gabungan dari apertureshutter speeds dan ASA yang sobat gunakan dalam satu scene/frame. Beda lagi kalau double/multi-exposure, satu scene/frame lebih dari satu exposure. Nanti kita juga akan membahasnya. Pada dasarnya ada dua kontrol utama untuk fotografi exposure. Pertama "f/stop" atau aperture/bukaan diafragma. Apakah itu? Yakni bilah-bilah logam yang mengatur intensitas cahaya melalui lensa. Kalau sobat mengubah aperture, maka berubah pula intensitas cahaya yang jatuh pada film. Kontrol lainnya adalah shutter speeds yang bertugas mengatur durasi exposure.
                              Satuan f/stop/aperture/bukaan diafragma adalah diameter bukaan bilah-bilah logam. Biasanya ditulis dengan f/X atau 1/X, dimana X adalah angka aperture-nya. Nantinya aperture ini akan berakibat pada terang-gelapnya intensitas cahaya pada film setiap "1 stop" perubahan padaaperture. Misalnya sobat pakai aperture f/5.6, hasilnya akan dua kali intensitas f/8 dan setengah intensitas f/4 dan lain-lain. Makin besar angka aperture yang sobat gunakan, maka hasil gambarnya akan semakin gelap. Begitu juga dengan perhitungan shutter speeds dalam sepersekian detik.

                Senin, 02 Februari 2015

                Klub Perancis UII Libatkan Mahasiswa dalam Belajar Budaya dan Bahasa Perancis

                Di era globalisasi, interaksi yang melibatkan masyarakat satu negara dengan masyarakat dari negara lain terjalin semakin intens. Untuk dapat memetik manfaat dari perkembangan ini, seseorang harus memiliki keinginan untuk belajar dan memahami tentang seluk beluk bangsa lain, termasuk dalam budaya, bahasa, dan nilai-nilai yang dianutnya. Dengan memahami aspek ini, maka dapat mengurangi dampak kesenjangan dan kegagapan budaya ketika berinteraksi dengan masyarakat dari berbagai negara yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda. UII pun secara intens terus mendorong para sivitas akademikanya untuk mempelajari dan memahami budaya asing yang dimiliki oleh bangsa lain. Sebab ke depan, sejalan dengan kebijakan internasionalisasi di UII, para sivitas akademika pun diproyeksikan akan banyak bersinggungan dengan sivitas akademika dari berbagai universitas asing yang menjadi mitra UII.
                Hal ini sebagaimana tergambar dalam kegiatan Klub Perancis UII yang aktif menyelenggarakan aktifitas pemahaman lintas budaya di antara Indonesia dan Perancis. Klub yang baru memulai kegiatannya pada November 2014 ini beranggotakan para mahasiswa UII yang tertarik untuk belajar tentang budaya Perancis. Berdirinya klub tersebut juga merupakan realisasi kerjasama yang dijalin antara UII dan Institut Français d'Indonésie (IFI) yang telah disepakati sebelumnya. Para pengajar dan sukarelawan IFI rutin menghadiri pertemuan klub untuk membagikan pengalamannya.
                Disampaikan oleh Herman Felani, MA, pengajar Bridging Program International Program UII bahwa pendirian klub ini selain bertujuan mendorong minat belajar mahasiswa juga menyiapkan para mahasiswa UII untuk terbiasa dengan iklim internasionalisasi perguruan tinggi. “Setiap hari Selasa pada jam 1 siang, klub selalu mengadakan kegiatan mulai dari belajar budaya, bahasa, hingga mengenal bagaimana suasana belajar dan bekerja di Perancis”, kata Herman. Pada momen-momen tertentu, kegiatan klub juga melibatkan staf IP UII.
                Seperti diketahui, pemerintah Perancis memang membuka peluang yang luas bagi mahasiswa asing untuk belajar di negerinya sehingga diharapkan peluang ini juga disambut oleh para mahasiswa UII. Herman juga menambahkan dalam waktu dekat UII akan membuka “Warung Perancis” yang berfungsi sebagai pusat kebudayaan Perancis di kampus UII.
                Pada Selasa (13/1), klub mengadakan kegiatan belajar memasak masakan Perancis yang berlangsung di Gedung Prof. Sardjito, kampus terpadu UII. Seorang volunteer IFI membawakan kegiatan tersebut dan memperkenalkan tentang masakan-masakan Perancis. Para peserta yang terdiri dari para mahasiswa IP dan Hubungan Internasional UII nampak antusias dalam menyimak setiap pemaparan dari volunteer IFI. Mereka juga langsung mempraktekkan pengetahuan yang baru saja mereka peroleh. Kegiatan ini kemudian ditutup dengan sesi makan bersama dalam suasana yang akrab di antara peserta dan volunteer IFI.