Senin, 27 April 2015

Memasuki Gelombang Keempat, Total Pendaftar UII Mengalami Peningkatan

Image
Jumlah total pendaftar pada seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Universitas Islam Indonesia (UII) melalui jalur Paper Based Test (PBT), Computer Based Test (CBT), dan Penelusuran siswa Berprestasi (PSB) pada gelombang keempat ini menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan gelombang yang sama pada periode sebelumnya, tercatat kenaikan tersebut mencapai 15,43 %
Demikian seperti yang disampaikan oleh Direktur Direktorat Akademik UII Arief Rahman, SE., M.Com., Ph.D., pada saat pelaksanaan seleksi PMB jalur PBT Reguler IV TA 2015/2016 di Kampus Terpadu UII, Jl. Kaliurang Km. 14,5, Minggu (26/4).
Pihaknya juga memenjelaskan bahwa pelaksanaan PMB Gelombang 4 ini didominasi oleh pendaftar dari Program Studi Pendidikan Dokter, dengan jumlah 529 peserta dari total 2.514 peserta seleksi. Dominasi pendaftar berikutnya diikuti oleh Program Studi Ilmu Hukum 239 peserta, Manajemen 234 peserta, dan Farmasi 231 peserta.
Seperti diketahui, selain melalui  jalur seleksi Penelusuran Siswa Berprestasi (PSB), pendaftar pada Program Studi Pendidikan Dokter UII hanya dapat melalui jalur seleksi PBT. Berbeda dengan program studi lain yang ditawarkan oleh UII, dimana proses seleksi bisa melalui jalur seleksi CBT yang pelaksanaannya dilakukan 6 hari dalam satu minggunya. Terlebih model jalur seleksi penerimaan mahasiswa baru UII jalur CBT juga bisa diikuti di lebih dari 20 titik di berbagai provinsi di Indonesia.
Pada kesempatan tersebut, Raktor UII Dr. Ir. Harsoyo juga menyampaikan terkait dengan rencana kedepan perbaikan proses pelaksanaan penerimaan mahasiswa baru, seperti yang banyak dilakukan pada perguruan tinggi di negara maju, dimana sistemnya sudah tidak lagi menggunakan kepanitiaan melainkan berupa admisi. Tentu hal ini akan lebih memudahkan masyarakat dan juga semakin efektif dan efisien bagi UII.

Jenis Kamera dalam Fotografi


Jenis Kamera dalam Fotografi
    (en:Camera obscura)
    (en:Analog camera) Kamera analog
    (en:Box camera)
    (en:Brownie camera) Kamera Brownie
    (en:Cinématographe)
    (en:Digital camera) Kamera digital
    (en:Folding camera) Kamera folding
    (en:Instant image camera)
    (en:Kinetoscopic camera) Kamera kinetoskopis
    (en:Large format camera) Kamera format besar
    (en:Lomo camera)
    (en:Mammoth camera)
    (en:Medium format camera) Kamera format medium
    (en:Pocket camera) Kamera saku
    (en:Point&Shoot camera)
    (en:Prosumer camera)
    (en:Rapatronic camera)
    (en:Rotating camera)
    (en:Single lens reflex (SLR) camera) Kamera SLR
    (en:Stereo camera)
    (en:Twin lens reflex (TLR) camera)
    (en:View camera)

Kronologi Perkembangan Fotgrafi

Foto Heliografi dengan subyek pemandangan yang pertama dibuat oleh Joseph Nicéphore Niépce pada tahun 1826.[1]
Boulevard du Temple, foto Daguerreotype pertama yang dibuat oleh Daguerre pada sekitar tahun 1838-1839
Citra berwarna yang pertama, Maxwell, 1861
Foto berwarna yang pertama dibuat oleh Louis Ducos du Hauron pada tahun 1877.
High speed photography, Muybridge, 1878
Citra hasil pemindaian komputer digital, 1957

    1822 – Joseph Nicéphore Niépce membuat foto Heliografi yang pertama dengan subyek Paus Pius VII, menggunakan proses heliografik. Salah satu foto yang bertahan hingga sekarang dibuat pada tahun 1825.[1]
    1826 – Joseph Nicéphore Niépce membuat foto pemandangan yang pertama,[1] yang dibuat dengan pajanan selama 8 jam.
    1835 – William Henry Fox Talbot menemukan proses fotografi yang baru.
    1839 – Louis Daguerre mematenkan daguerreotype.
    1839 – William Henry Fox Talbot menemukan proses positif/negatif yang disebut Tabotype.
    1839 – John Herschel menemukan film negatif dengan larutan Sodium thiosulfate/hyposulfite of soda yang disebut hypo atau fixer.
    1851 – Frederick Scott Archer memperkenalkan proses koloid.
    1854 – André Adolphe Eugène Disdéri memperkenalkan rotating camera yang dapat merekam 8 citra berbeda dalam satu film. Setelah hasilnya dicetak di atas kertas albumen, citra tersebut dipotong menjadi 8 bagian terpisah dan direkatkan pada lembaran kartu. Kartu ini menjadi inspirasi penyebutan (fr:carte de visite, bahasa Inggris:visiting card)
    1861 – Foto berwarna yang pertama diperkenalkan James Clerk Maxwell.
    1868 – Louis Ducos du Hauron mematenkan metode subtractive color photography.
    1871 – Richard Maddox menemukan film fotografis dari emulsi gelatin.
    1876 – F. Hurter & V. C. Driffield memulai evaluasi sistematis pada kepekaan emulsi fotografis yang kemudian dikenal dengan istilah sensitometri.
    1878 – Eadweard Muybridge membuat sebuah foto high-speed photographic dari seekor kuda yang berlari.
    1887 – Film Seluloid yang pertama diperkenalkan.
    1888 – Kodak memasarkan box camera n°1, kamera easy-to-use yang pertama.
    1887 – Gabriel Lippmann menemukan reproduksi warna pada foto.
    1891 – Thomas Alva Edison mematenkan kamera kinetoskopis (motion pictures).
    1895 – Auguste and Louis Lumière menemukan cinématographe.
    1898 – Kodak memperkenalkan produk kamera folding Pocket Kodak.
    1900 – Kodak memperkenalkan produk kamera Brownie.
    1901 – Kodak memperkenalkan 120 film.
    1902 – Arthur Korn membuat teknologi phototelegraphy;; yang mengubah citra menjadi sinyal yang dapat ditransmisikan melalui kabel. Wire-Photos digunakan luas di daratan Eropa pada tahun 1910 dan transmisi antarbenua dimulai sejak 1922.
    1907 – Autochrome Lumière merupakan pemasaran proses fotografi berwarna yang pertama.
    1912 – Vest Pocket Kodak menggunakan 127 film.
    1913 – Kinemacolor, sebuah sistem "natural color" untuk penayangan komersial, ditemukan.
    1914 – Kodak memperkenalkan sistem autographic film.
    1920s – Yasujiro Niwa menemukan peralatan untuk transmisi phototelegraphic melalui gelombang radio.
    1923 – Doc Harold Edgerton menemukan xenon flash lamp dan strobe photography.
    1925 – Leica memperkenalkan format film 35mm pada still photography.
    1932 – Tayangan berwarna pertama dari Technicolor bertajuk Flowers and Trees dibuat oleh Disney.
    1934 – Kartrid film 135 diperkenalkan, membuat kamera 35mm mudah digunakan.
    1936 – IHAGEE membuat Ihagee Kine Exakta 1. Kamera SLR 35mm yang pertama.
    1936 – Kodachrome mengembangkan multi-layered reversal color film yang pertama.
    1937 – Agfacolor-Neu mengembangkan reversal color film.
    1939 – Agfacolor membuat "print" film modern yang pertama dengan materi warna positif/negatif.
    1939 – View-Master memperkenalkan kamera stereo viewer.
    1942 – Kodacolor memasarkan "print" film Kodak yang pertama.
    1947 – Dennis Gabor menemukan holography.
    1947 – Harold Edgerton mengembangkan rapatronic camera untuk pemerintah Amerika Serikat.
    1948 – Kamera Hasselblad mulai dipasarkan.
    1948 – Edwin H. Land membuat kamera instan yang pertama dengan merk Polaroid.
    1952 – Era 3-D film dimulai.
    1954 – Leica M diperkenalkan.
    1957 – Asahi Pentax memperkenalkan kamera SLRnya yang pertama.
    1957 – Citra digital yang pertama dibuat dengan komputer oleh Russell Kirsch di U.S. National Bureau of Standards (sekarang bernama National Institute of Standards and Technology, NIST). [2]
    1959 – Nikon F diperkenalkan.
    1959 – AGFA memperkenalkan kamera otomatis yang pertama, Optima.
    1963 – Kodak memperkenalkan Instamatic.
    1964 – Kamera Pentax Spotmatic SLR diperkenalkan.
    1973 – Fairchild Semiconductor memproduksi sensor CCD skala besar yang terdiri dari 100 baris dan 100 kolom.
    1975 – Bryce Bayer dari Kodak mengembangkan pola mosaic filter Bayer untuk CCD color image sensor.
    1986 – Ilmuwan Kodak menemukan sensor dengan kapasitas megapiksel yang pertama.
    2005 – AgfaPhoto menyatakan bangkrut. Produksi film konsumen bermerk Agfa terhenti.
    2006 – Dalsa membuat sensor CCD dengan kapasitas 111 megapixel, yang terbesar saat itu.
    2008 – Polaroid mengumumkan penghentian semua produksi produk film instan berkaitan dengan semakin berkembangnya teknologi citra digital.
    2009 - Kodak mengumumkan penghentian film Kodachrome.

Sejarah Fotografi


Fotografi (dari bahasa Inggris: photography, yang berasal dari kata Yunani yaitu "photos" : Cahaya dan "Grafo" : Melukis/menulis.) adalah proses melukis/menulis dengan menggunakan media cahaya. Sebagai istilah umum, fotografi berarti proses atau metode untuk menghasilkan gambar atau foto dari suatu obyek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai obyek tersebut pada media yang peka cahaya. Alat paling populer untuk menangkap cahaya ini adalah kamera. Tanpa cahaya, tidak ada foto yang bisa dibuat.

Prinsip fotografi adalah memokuskan cahaya dengan bantuan pembiasan sehingga mampu membakar medium penangkap cahaya. Medium yang telah dibakar dengan ukuran luminitas cahaya yang tepat akan menghailkan bayangan identik dengan cahaya yang memasuki medium pembiasan (selanjutnya disebut lensa).

Untuk menghasilkan intensitas cahaya yang tepat untuk menghasilkan gambar, digunakan bantuan alat ukur berupa lightmeter. Setelah mendapat ukuran pencahayaan yang tepat, seorang fotografer bisa mengatur intensitas cahaya tersebut dengan mengubah kombinasi ISO/ASA (ISO Speed), diafragma (Aperture), dan kecepatan rana (speed). Kombinasi antara ISO, Diafragma & Speed disebut sebagai pajanan (exposure).

Di era fotografi digital dimana film tidak digunakan, maka kecepatan film yang semula digunakan berkembang menjadi Digital ISO.

Mode kamera DSLR

Mode Sport (biasa dilambangkan dengan ikon orang berlari)Mode ini dirancang untuk membekukan gerakan. Di mode ini, kamera akan memperkecil shutter speed sekecil mungkin sehingga ketika membidik subyek bergerak  foto yang dihasilkan akan tetap tajam. Flash akan dimatikan dan hanya bekerja saat cahaya cukup. Akan saya gunakan ketika:-    Saya memotret anak saya yang sedang menggiring bola -    Saya akan memotret sebuah mobil yang sedang melaju
Mode landscape (biasa dilambangkan dengan ikon gunung)Mode ini adalah kebalikan dari mode portrait. Kamera akan menggunakan angka aperture sebesar mungkin, sehingga bidang fokus foto (Depth of Field – DOF) bisa seluas mungkin. Dengan begitu  keseluruhan bagian foto dalam frame akan tajam. Sesuai namanya, mode ini didesain dipakai saat kita memotret pemandangan alam, namun juga bisa digunakan saat memotret orang namun kita ingin background tetap terlihat tajam. Saya gunakan mode landscape saat:-    Memotret terasiring yang indah di Bali -    Memotret 10 orang yang berpose didepan Candi Borobudur
Mode Night (dilambangkan dengan ikon bintang atau bulan)Mode ini didesain untuk bekerja dalam kondisi cahaya yang minim, baik saat malam maupun kita berada dalam ruangan yang remang.  Kamera akan menaikkan ISO supaya dalam kondisi remang-pun sensor masih mampu menangkap cahaya dengan baik, mode ini juga berusaha membuat shutter speed yang lebih lama sehingga gambar tidak terlalu kabur dan biasanya secara otomotis flash bawaan kamera akan ikut menyala. Saya memakai night mode saat:-    Mengambil foto dalam sebuah pesta malam -    Memotret jalanan dimalam hari
Mode Beach / Snow Menyeimbangkan eksposur supaya putih-nya salju atau pasir pantai tidak kehilangan detailnya dan juga tidak terlalu pucat dengan menaikkan eksposur. White balance diset di sinar matahari.
Mode FireworksTanpa flash, shutter speed diset lumayan lama untuk merekam pergerakan percikan kembang api dengan baik. Mode ini sebaiknya diimbangi dengan memakai alat bantu untuk menstabilkan kamera supaya tidak goyang, misal tripod.
  1. pno
Mode Panorama – memotret urutan foto yang nantinya akan digabung sebagai panorama

Memahami Mode pada kamera DSLR

  1. Mode Auto (A)Tidak perlu penjelasan apapun, pada intinya kita percayakan pemilihan keseluruhan setting (shutter-aperture-ISO-White Balance & Flash jika ada) pada otak di kamera. Kamera akan berusaha menebak karakteristik seluruh obyek dalam frame serta kondisi cahayanya lalu menentukan semua besaran setting diatas. Mode ini efektif untuk pemula, tetapi hanya menghasilkan foto yang benar namun bukan luar biasa
  2. Mode Portrait (biasa dilambangkan dengan ikon dengan kepala wanita)Kamera akan memilih DOF yang sempit (angka aperture sekecil-kecilnya) sehingga obyek yang di foto akan terisolasi dari background, sehingga ruang fokus hanya akan berada pada subyek saja sementara background terlihat kabur.
  3. Mode Macro (biasa dilambangkan dengan ikon bunga)
    Mode ini diperlukan saat kita ingin mengambil foto benda-benda kecil dari jarak dekat (close-up). Dengan mode ini, kita bisa mendekatkan  ujung lensa sedekat-dekatnya (biasanya antara 2-8 cm dari obyek) sehingga benda sekecil apapun akan terlihat cukup besar dan detail. Dalam jarak sedekat ini, kita harus mengusahakan agar bidang obyek yang difoto sejajar dengan kamera, dan sebisa mungkin menggunakan tripod sehingga hasilnya tajam dan bidang fokusnya cukup.

Cara Kerja kamera DSLR

Setiap kamera SLR digital modern dari pabriknya dilengkapi dengan teknologi bernama Metering ModeExposure MeteringCamera Metering atau untuk lebih praktisnya kita sebut Metering yang sudah dirakit didalamnya. Dalam artikel ini kita akan berusaha memahami apa itu metering? bagaimana cara kerjanya serta beberapa kelemahan utama yang harus kita hadapi (underexposed & overexposed). Dalam artikel selanjutnya, lebih jauh kita pahami tentang mode metering (matrix/evaluative, center weighted & spot metering).

Apa Itu Metering? Apa Gunanya?

Secara prinsip tidak beda dengan meteran gulung yang dipakai pekerja konstruksi atau meteran pita yang dipakai tukang jahit untuk mengukur panjang, hanya metering ini dipakai oleh kamera DSLR untuk mengukur cahaya, yang secara relatif lebih njelimet dibanding dengan mengukur panjang.
Metering dipakai untuk mengukur cahaya yang dilihat oleh kamera (cahaya yang masuk ke lensa). Saat kita melihat obyek foto melalui viewfinder kamera, kondisi cahaya di obyek tersebut akan diukur oleh sistem metering. Tujuan utama dari sistem metering kamera adalah menghasilkan foto yang pas eksposure-nya (baca lagi pengertian eksposure). Metering melakukannya dengan menganalisa tingkat gelap terang sebuah obyek foto kemudian menentukan besarnya shutter speedaperture serta ISO supaya hasil foto anda pas, tidak terlalu gelap ataupun tidak terlalu terang.
Hmm pusing nya…. oke, gampangya begini.Bayangkan mata anda. Saat anda merasa silau apa yang anda lakukan? memincingkan mata bukan! Secara tidak sadar anda mengurangi jumlah cahaya yang masuk ke mata supaya anda tidak silau (tidak terlalu terang). Kebalikannya, saat merasa cahaya terlalu remang anda secara otomatis membuka mata lebar-lebar. Memincingkan mata atau membuka mata lebar-lebar supaya mata merasa nyaman saat melihat (eksposur yang pas), seperti itulah tugas sistem metering kamera.

Cara Kerja Sistem Metering Kamera & Kelemahannya
Saat kamera melihat tembok, sistem metering akan mengukur besar cahaya (gelap terang) yang dipantulkan oleh tembok tersebut (reflective). Hal ini mudah saat semua obyek foto memantulkan jumlah cahaya yang sama.
Repotnya, didunia nyata masing-masing benda memiliki tingkat pantulan yang berbeda. Saat kita memotret langit, kalau langitnya biru sempurna metering kamera akan gampang menghitung eksposur karena hanya ada satu tingkat terang yang harus dihitung (biru). Namun saat kita memotret langit dengan tambahan awan putih, metering sekarang harus menghitug kecerahan langit biru dan kecerahan awan putih dan harus berusaha menghasilkan eksposure yang optimal. Sekarang tambahkan gunung dan barisan pepohonan kedalam obyek foto diatas, maka tingkat kompleksitas yang dihadapi metering makin rumit.