Senin, 27 April 2015

Memasuki Gelombang Keempat, Total Pendaftar UII Mengalami Peningkatan

Image
Jumlah total pendaftar pada seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Universitas Islam Indonesia (UII) melalui jalur Paper Based Test (PBT), Computer Based Test (CBT), dan Penelusuran siswa Berprestasi (PSB) pada gelombang keempat ini menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan gelombang yang sama pada periode sebelumnya, tercatat kenaikan tersebut mencapai 15,43 %
Demikian seperti yang disampaikan oleh Direktur Direktorat Akademik UII Arief Rahman, SE., M.Com., Ph.D., pada saat pelaksanaan seleksi PMB jalur PBT Reguler IV TA 2015/2016 di Kampus Terpadu UII, Jl. Kaliurang Km. 14,5, Minggu (26/4).
Pihaknya juga memenjelaskan bahwa pelaksanaan PMB Gelombang 4 ini didominasi oleh pendaftar dari Program Studi Pendidikan Dokter, dengan jumlah 529 peserta dari total 2.514 peserta seleksi. Dominasi pendaftar berikutnya diikuti oleh Program Studi Ilmu Hukum 239 peserta, Manajemen 234 peserta, dan Farmasi 231 peserta.
Seperti diketahui, selain melalui  jalur seleksi Penelusuran Siswa Berprestasi (PSB), pendaftar pada Program Studi Pendidikan Dokter UII hanya dapat melalui jalur seleksi PBT. Berbeda dengan program studi lain yang ditawarkan oleh UII, dimana proses seleksi bisa melalui jalur seleksi CBT yang pelaksanaannya dilakukan 6 hari dalam satu minggunya. Terlebih model jalur seleksi penerimaan mahasiswa baru UII jalur CBT juga bisa diikuti di lebih dari 20 titik di berbagai provinsi di Indonesia.
Pada kesempatan tersebut, Raktor UII Dr. Ir. Harsoyo juga menyampaikan terkait dengan rencana kedepan perbaikan proses pelaksanaan penerimaan mahasiswa baru, seperti yang banyak dilakukan pada perguruan tinggi di negara maju, dimana sistemnya sudah tidak lagi menggunakan kepanitiaan melainkan berupa admisi. Tentu hal ini akan lebih memudahkan masyarakat dan juga semakin efektif dan efisien bagi UII.

Jenis Kamera dalam Fotografi


Jenis Kamera dalam Fotografi
    (en:Camera obscura)
    (en:Analog camera) Kamera analog
    (en:Box camera)
    (en:Brownie camera) Kamera Brownie
    (en:Cinématographe)
    (en:Digital camera) Kamera digital
    (en:Folding camera) Kamera folding
    (en:Instant image camera)
    (en:Kinetoscopic camera) Kamera kinetoskopis
    (en:Large format camera) Kamera format besar
    (en:Lomo camera)
    (en:Mammoth camera)
    (en:Medium format camera) Kamera format medium
    (en:Pocket camera) Kamera saku
    (en:Point&Shoot camera)
    (en:Prosumer camera)
    (en:Rapatronic camera)
    (en:Rotating camera)
    (en:Single lens reflex (SLR) camera) Kamera SLR
    (en:Stereo camera)
    (en:Twin lens reflex (TLR) camera)
    (en:View camera)

Kronologi Perkembangan Fotgrafi

Foto Heliografi dengan subyek pemandangan yang pertama dibuat oleh Joseph Nicéphore Niépce pada tahun 1826.[1]
Boulevard du Temple, foto Daguerreotype pertama yang dibuat oleh Daguerre pada sekitar tahun 1838-1839
Citra berwarna yang pertama, Maxwell, 1861
Foto berwarna yang pertama dibuat oleh Louis Ducos du Hauron pada tahun 1877.
High speed photography, Muybridge, 1878
Citra hasil pemindaian komputer digital, 1957

    1822 – Joseph Nicéphore Niépce membuat foto Heliografi yang pertama dengan subyek Paus Pius VII, menggunakan proses heliografik. Salah satu foto yang bertahan hingga sekarang dibuat pada tahun 1825.[1]
    1826 – Joseph Nicéphore Niépce membuat foto pemandangan yang pertama,[1] yang dibuat dengan pajanan selama 8 jam.
    1835 – William Henry Fox Talbot menemukan proses fotografi yang baru.
    1839 – Louis Daguerre mematenkan daguerreotype.
    1839 – William Henry Fox Talbot menemukan proses positif/negatif yang disebut Tabotype.
    1839 – John Herschel menemukan film negatif dengan larutan Sodium thiosulfate/hyposulfite of soda yang disebut hypo atau fixer.
    1851 – Frederick Scott Archer memperkenalkan proses koloid.
    1854 – André Adolphe Eugène Disdéri memperkenalkan rotating camera yang dapat merekam 8 citra berbeda dalam satu film. Setelah hasilnya dicetak di atas kertas albumen, citra tersebut dipotong menjadi 8 bagian terpisah dan direkatkan pada lembaran kartu. Kartu ini menjadi inspirasi penyebutan (fr:carte de visite, bahasa Inggris:visiting card)
    1861 – Foto berwarna yang pertama diperkenalkan James Clerk Maxwell.
    1868 – Louis Ducos du Hauron mematenkan metode subtractive color photography.
    1871 – Richard Maddox menemukan film fotografis dari emulsi gelatin.
    1876 – F. Hurter & V. C. Driffield memulai evaluasi sistematis pada kepekaan emulsi fotografis yang kemudian dikenal dengan istilah sensitometri.
    1878 – Eadweard Muybridge membuat sebuah foto high-speed photographic dari seekor kuda yang berlari.
    1887 – Film Seluloid yang pertama diperkenalkan.
    1888 – Kodak memasarkan box camera n°1, kamera easy-to-use yang pertama.
    1887 – Gabriel Lippmann menemukan reproduksi warna pada foto.
    1891 – Thomas Alva Edison mematenkan kamera kinetoskopis (motion pictures).
    1895 – Auguste and Louis Lumière menemukan cinématographe.
    1898 – Kodak memperkenalkan produk kamera folding Pocket Kodak.
    1900 – Kodak memperkenalkan produk kamera Brownie.
    1901 – Kodak memperkenalkan 120 film.
    1902 – Arthur Korn membuat teknologi phototelegraphy;; yang mengubah citra menjadi sinyal yang dapat ditransmisikan melalui kabel. Wire-Photos digunakan luas di daratan Eropa pada tahun 1910 dan transmisi antarbenua dimulai sejak 1922.
    1907 – Autochrome Lumière merupakan pemasaran proses fotografi berwarna yang pertama.
    1912 – Vest Pocket Kodak menggunakan 127 film.
    1913 – Kinemacolor, sebuah sistem "natural color" untuk penayangan komersial, ditemukan.
    1914 – Kodak memperkenalkan sistem autographic film.
    1920s – Yasujiro Niwa menemukan peralatan untuk transmisi phototelegraphic melalui gelombang radio.
    1923 – Doc Harold Edgerton menemukan xenon flash lamp dan strobe photography.
    1925 – Leica memperkenalkan format film 35mm pada still photography.
    1932 – Tayangan berwarna pertama dari Technicolor bertajuk Flowers and Trees dibuat oleh Disney.
    1934 – Kartrid film 135 diperkenalkan, membuat kamera 35mm mudah digunakan.
    1936 – IHAGEE membuat Ihagee Kine Exakta 1. Kamera SLR 35mm yang pertama.
    1936 – Kodachrome mengembangkan multi-layered reversal color film yang pertama.
    1937 – Agfacolor-Neu mengembangkan reversal color film.
    1939 – Agfacolor membuat "print" film modern yang pertama dengan materi warna positif/negatif.
    1939 – View-Master memperkenalkan kamera stereo viewer.
    1942 – Kodacolor memasarkan "print" film Kodak yang pertama.
    1947 – Dennis Gabor menemukan holography.
    1947 – Harold Edgerton mengembangkan rapatronic camera untuk pemerintah Amerika Serikat.
    1948 – Kamera Hasselblad mulai dipasarkan.
    1948 – Edwin H. Land membuat kamera instan yang pertama dengan merk Polaroid.
    1952 – Era 3-D film dimulai.
    1954 – Leica M diperkenalkan.
    1957 – Asahi Pentax memperkenalkan kamera SLRnya yang pertama.
    1957 – Citra digital yang pertama dibuat dengan komputer oleh Russell Kirsch di U.S. National Bureau of Standards (sekarang bernama National Institute of Standards and Technology, NIST). [2]
    1959 – Nikon F diperkenalkan.
    1959 – AGFA memperkenalkan kamera otomatis yang pertama, Optima.
    1963 – Kodak memperkenalkan Instamatic.
    1964 – Kamera Pentax Spotmatic SLR diperkenalkan.
    1973 – Fairchild Semiconductor memproduksi sensor CCD skala besar yang terdiri dari 100 baris dan 100 kolom.
    1975 – Bryce Bayer dari Kodak mengembangkan pola mosaic filter Bayer untuk CCD color image sensor.
    1986 – Ilmuwan Kodak menemukan sensor dengan kapasitas megapiksel yang pertama.
    2005 – AgfaPhoto menyatakan bangkrut. Produksi film konsumen bermerk Agfa terhenti.
    2006 – Dalsa membuat sensor CCD dengan kapasitas 111 megapixel, yang terbesar saat itu.
    2008 – Polaroid mengumumkan penghentian semua produksi produk film instan berkaitan dengan semakin berkembangnya teknologi citra digital.
    2009 - Kodak mengumumkan penghentian film Kodachrome.

Sejarah Fotografi


Fotografi (dari bahasa Inggris: photography, yang berasal dari kata Yunani yaitu "photos" : Cahaya dan "Grafo" : Melukis/menulis.) adalah proses melukis/menulis dengan menggunakan media cahaya. Sebagai istilah umum, fotografi berarti proses atau metode untuk menghasilkan gambar atau foto dari suatu obyek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai obyek tersebut pada media yang peka cahaya. Alat paling populer untuk menangkap cahaya ini adalah kamera. Tanpa cahaya, tidak ada foto yang bisa dibuat.

Prinsip fotografi adalah memokuskan cahaya dengan bantuan pembiasan sehingga mampu membakar medium penangkap cahaya. Medium yang telah dibakar dengan ukuran luminitas cahaya yang tepat akan menghailkan bayangan identik dengan cahaya yang memasuki medium pembiasan (selanjutnya disebut lensa).

Untuk menghasilkan intensitas cahaya yang tepat untuk menghasilkan gambar, digunakan bantuan alat ukur berupa lightmeter. Setelah mendapat ukuran pencahayaan yang tepat, seorang fotografer bisa mengatur intensitas cahaya tersebut dengan mengubah kombinasi ISO/ASA (ISO Speed), diafragma (Aperture), dan kecepatan rana (speed). Kombinasi antara ISO, Diafragma & Speed disebut sebagai pajanan (exposure).

Di era fotografi digital dimana film tidak digunakan, maka kecepatan film yang semula digunakan berkembang menjadi Digital ISO.

Mode kamera DSLR

Mode Sport (biasa dilambangkan dengan ikon orang berlari)Mode ini dirancang untuk membekukan gerakan. Di mode ini, kamera akan memperkecil shutter speed sekecil mungkin sehingga ketika membidik subyek bergerak  foto yang dihasilkan akan tetap tajam. Flash akan dimatikan dan hanya bekerja saat cahaya cukup. Akan saya gunakan ketika:-    Saya memotret anak saya yang sedang menggiring bola -    Saya akan memotret sebuah mobil yang sedang melaju
Mode landscape (biasa dilambangkan dengan ikon gunung)Mode ini adalah kebalikan dari mode portrait. Kamera akan menggunakan angka aperture sebesar mungkin, sehingga bidang fokus foto (Depth of Field – DOF) bisa seluas mungkin. Dengan begitu  keseluruhan bagian foto dalam frame akan tajam. Sesuai namanya, mode ini didesain dipakai saat kita memotret pemandangan alam, namun juga bisa digunakan saat memotret orang namun kita ingin background tetap terlihat tajam. Saya gunakan mode landscape saat:-    Memotret terasiring yang indah di Bali -    Memotret 10 orang yang berpose didepan Candi Borobudur
Mode Night (dilambangkan dengan ikon bintang atau bulan)Mode ini didesain untuk bekerja dalam kondisi cahaya yang minim, baik saat malam maupun kita berada dalam ruangan yang remang.  Kamera akan menaikkan ISO supaya dalam kondisi remang-pun sensor masih mampu menangkap cahaya dengan baik, mode ini juga berusaha membuat shutter speed yang lebih lama sehingga gambar tidak terlalu kabur dan biasanya secara otomotis flash bawaan kamera akan ikut menyala. Saya memakai night mode saat:-    Mengambil foto dalam sebuah pesta malam -    Memotret jalanan dimalam hari
Mode Beach / Snow Menyeimbangkan eksposur supaya putih-nya salju atau pasir pantai tidak kehilangan detailnya dan juga tidak terlalu pucat dengan menaikkan eksposur. White balance diset di sinar matahari.
Mode FireworksTanpa flash, shutter speed diset lumayan lama untuk merekam pergerakan percikan kembang api dengan baik. Mode ini sebaiknya diimbangi dengan memakai alat bantu untuk menstabilkan kamera supaya tidak goyang, misal tripod.
  1. pno
Mode Panorama – memotret urutan foto yang nantinya akan digabung sebagai panorama

Memahami Mode pada kamera DSLR

  1. Mode Auto (A)Tidak perlu penjelasan apapun, pada intinya kita percayakan pemilihan keseluruhan setting (shutter-aperture-ISO-White Balance & Flash jika ada) pada otak di kamera. Kamera akan berusaha menebak karakteristik seluruh obyek dalam frame serta kondisi cahayanya lalu menentukan semua besaran setting diatas. Mode ini efektif untuk pemula, tetapi hanya menghasilkan foto yang benar namun bukan luar biasa
  2. Mode Portrait (biasa dilambangkan dengan ikon dengan kepala wanita)Kamera akan memilih DOF yang sempit (angka aperture sekecil-kecilnya) sehingga obyek yang di foto akan terisolasi dari background, sehingga ruang fokus hanya akan berada pada subyek saja sementara background terlihat kabur.
  3. Mode Macro (biasa dilambangkan dengan ikon bunga)
    Mode ini diperlukan saat kita ingin mengambil foto benda-benda kecil dari jarak dekat (close-up). Dengan mode ini, kita bisa mendekatkan  ujung lensa sedekat-dekatnya (biasanya antara 2-8 cm dari obyek) sehingga benda sekecil apapun akan terlihat cukup besar dan detail. Dalam jarak sedekat ini, kita harus mengusahakan agar bidang obyek yang difoto sejajar dengan kamera, dan sebisa mungkin menggunakan tripod sehingga hasilnya tajam dan bidang fokusnya cukup.

Cara Kerja kamera DSLR

Setiap kamera SLR digital modern dari pabriknya dilengkapi dengan teknologi bernama Metering ModeExposure MeteringCamera Metering atau untuk lebih praktisnya kita sebut Metering yang sudah dirakit didalamnya. Dalam artikel ini kita akan berusaha memahami apa itu metering? bagaimana cara kerjanya serta beberapa kelemahan utama yang harus kita hadapi (underexposed & overexposed). Dalam artikel selanjutnya, lebih jauh kita pahami tentang mode metering (matrix/evaluative, center weighted & spot metering).

Apa Itu Metering? Apa Gunanya?

Secara prinsip tidak beda dengan meteran gulung yang dipakai pekerja konstruksi atau meteran pita yang dipakai tukang jahit untuk mengukur panjang, hanya metering ini dipakai oleh kamera DSLR untuk mengukur cahaya, yang secara relatif lebih njelimet dibanding dengan mengukur panjang.
Metering dipakai untuk mengukur cahaya yang dilihat oleh kamera (cahaya yang masuk ke lensa). Saat kita melihat obyek foto melalui viewfinder kamera, kondisi cahaya di obyek tersebut akan diukur oleh sistem metering. Tujuan utama dari sistem metering kamera adalah menghasilkan foto yang pas eksposure-nya (baca lagi pengertian eksposure). Metering melakukannya dengan menganalisa tingkat gelap terang sebuah obyek foto kemudian menentukan besarnya shutter speedaperture serta ISO supaya hasil foto anda pas, tidak terlalu gelap ataupun tidak terlalu terang.
Hmm pusing nya…. oke, gampangya begini.Bayangkan mata anda. Saat anda merasa silau apa yang anda lakukan? memincingkan mata bukan! Secara tidak sadar anda mengurangi jumlah cahaya yang masuk ke mata supaya anda tidak silau (tidak terlalu terang). Kebalikannya, saat merasa cahaya terlalu remang anda secara otomatis membuka mata lebar-lebar. Memincingkan mata atau membuka mata lebar-lebar supaya mata merasa nyaman saat melihat (eksposur yang pas), seperti itulah tugas sistem metering kamera.

Cara Kerja Sistem Metering Kamera & Kelemahannya
Saat kamera melihat tembok, sistem metering akan mengukur besar cahaya (gelap terang) yang dipantulkan oleh tembok tersebut (reflective). Hal ini mudah saat semua obyek foto memantulkan jumlah cahaya yang sama.
Repotnya, didunia nyata masing-masing benda memiliki tingkat pantulan yang berbeda. Saat kita memotret langit, kalau langitnya biru sempurna metering kamera akan gampang menghitung eksposur karena hanya ada satu tingkat terang yang harus dihitung (biru). Namun saat kita memotret langit dengan tambahan awan putih, metering sekarang harus menghitug kecerahan langit biru dan kecerahan awan putih dan harus berusaha menghasilkan eksposure yang optimal. Sekarang tambahkan gunung dan barisan pepohonan kedalam obyek foto diatas, maka tingkat kompleksitas yang dihadapi metering makin rumit.

Kamera DSLR Fotografi

Kamera DSLR kini semakin trend dikalangan masyarakat, berbagai produsen kini meluncurkan kamera DSLR terbaru, selain dilengkapi dengan berbagai fitur, kamera DSLR menghasilkan kualitas gambar sesuai dengan yang kita inginkan jika kita mengetahui cara menggunakannya.

Menggunakan kamera DSLR tidaklah mudah dalam membuat hasil gambar yang berkualitas, ada trik-trik dan petunjuk yang harus kita ikuti untuk menghasilkan kualitas potret yang lebih baik, terkecuali Anda telah memiliki pengalaman sebelumnya tentang kamera tersebut. Dan kali ini kita akan membahas sekilas teknik dasar menggunakan kamera DSLR. Karena untuk tingkat teknik dasar tergolong mudah untuk dipelajari terlebih bagi kita yang baru pertama menggunakan kamera DSLR.


Pertama sekali yang harus diperhatikan adalah pastikan kamera sudah dalam keadaan siap untuk digunakan, cek baterai, cek memory, dll. Setelah anda rasa kamera siap digunakan, selanjutnya kita coba mensetting kamera terlebih dahulu, setting kamera ke mode AV ( aperture Value) yaitu hanya merubah besarnya bukaan diagfragma sehingga Shutter Speed sudah otomatis di set oleh kamera tersebut.

Lalu, Bukaan terbaik / ketajaman terbaik ada di bukaan F/8.0 jika DOF (depth of field) lebih panjang bisa memakai bukaan F/14 (tidak disarankan jika memakai F/16 keatas, memang semua terlihat focus tetapi ketajaman sudah berkurang sehingga hasil kurang maksimal). Selanjutnya kita pastikan memakai ISO 100 ( semakin rendah semakin baik) jika cahaya kurang dan shutter speednya kurang (shutter speed lebih baik diatas 1/60 agar tidak shake) bisa dinaikan ISO nya. Lalu yang terakhir lebih baik gunakan lensa wide seperti 18-55mm dan 17-85mm.

SHUTTER SPEED


Kecepatan Rana dalam bahasa indonesia . Shutter adalah semacam layer yang menutup sensor . Pada waktu kita men-jepret , Shutter ini akan terbuka selama bbrp waktu sehingga sensor bisa merekam cahaya yang masuk melalui lensa . Durasi pembukaan shutter inilah yang dikenal sebagai Shutter Speed . Logikanya , semakin lama shutter dibuka akan semakin banyak cahaya yang masuk . Dan sebaliknya semakin cepat shutter dibuka maka makin sedikit cahaya yang terekam .
Satuannya detik . Satuannya lebih mudah dipahami ketimbang satuan Aperture . Untuk mengurangi banyaknya cahaya yang masuk menjadi setengah sebelumnya (-1 stop ), waktu Shutter Speed tinggal di bagi 2 . Dan sebaliknya , untuk menambah cahaya menjadi 2x sebelumnya ( +1 stop ) tinggal di kalikan 2 . Pada kamera Nikon D50 , nilai Shutter Speed yang dapat digunakan pada kamera adalah 60 , 32 , 16 , 8 , 4 , 2 , 1s , 1/2 , 1/4 , 1/8 , 1/16 , 1/32 , 1/64 , 1/125 , 1/250 , 1/500 , 1/1000 , 1/2000 , 1/4000 . 1/4000 . Range nilai Shutter Speed pada kamera tipe/merk lain kurang lebih sama . Pada beberapa kamera pro , kecepatannya bisa sampai 1/8000s . 

Slow Shutter Speed
Teknis dengan menggunakan shutter speed yang rendah ( nilai besar ) . Biasa digunakan pada kondisi kurang cahaya , shutter dibuka lebiiih lama agar kamera dapat mengumpulkan cukup cahaya untuk menghasilkan gambar yg kita inginkan . Jika kita memotret suatu scene dengan beberapa obyek yang bergerak , akan menghasilkan sebuah efek baru yang keren .
Misal memotret lalu lintas di malam hari menimbulkan efek “jalur cahaya” / lightrail . Lampu dari mobil2 yang berseliweran direkam dalam sensor .

Minggu, 26 April 2015

Pengertian ISO dalam Fotografi

ISO

ISO pada fotografi digital , bagi saya , lebih dipahami sebagai kemampuan teknologi sensor untuk menangkap cahaya . Semakin tinggi nilai ISO , semakin besar pula cahaya yang dapat ditangkap oleh sensor . Namun
, kekurangannya adalah timbulnya noise seiring bertambahnya nilai ISO yang disetting . Noise ini tampak seperti bintik – bintik butiran kecil yang bersebaran pada foto . Jika foto di zoom hingga 100% akan terlihat jelas noisenya . Selain menimbulkan noise , penambahan nilai ISO juga dapat menyebabkan berkurangnya kualitas foto yg dihasilkan misal : warna jadi tidak muncul , detail jadi hilang dsb.Nilai ISO pada kamera pada umumnya adalah 100,200,400,800,1600,3200 . Kamera DSLR profesional , NIKON D3 , bahkan mampu mencapai ISO hingga 6400,12800 dan 25600 dengan noise yang sangat rendah . Seiring perkembangan teknologi jangan heran kalau beberapa tahun kedepan sensor digital akan lebih baik , mampu mendukung ISO tinggi tapi dengan noise minimal.

Penggunaan ISO
Umumnya , settingan ISO yang dianjurkan adalah nilai ISO kecil. Noise yg dihasilkan lebih kecil sehingga hasil foto lebih baik apalagi jika berenacana untuk di-print pada ukuran besar. Juga cocok untuk pemotretan landscape / pemandangan dimana noise yg diinginkan seminimal mungkin. Repotnya kalau memotret landscape biasanya pada waktu-waktu dimana justru kurang cahaya : sunrise , sunset atau malam. Mau tidak mau, penggemar jenis foto tersebut harus sedia tripod atau sejenisnya agar bisa menggunakan shutter speed yang lama.
Nilai ISO besar biasanya digunakan untuk kondisi-kondisi kurang cahaya (malam hari atau indoor) dimana setting-an Aperture maupun Shutter Speed sudah maksimal. 

Alumni Baru Diharapkan Mampu Terapkan Nilai UII di Dunia Kerja

Image
Semakin pesatnya perkembangan ekonomi sudah pasti memberikan implikasi pada kompetisi yang semakin ketat khususnya di bidang lapangan kerja. Hal ini dipandang sebagai sebuah keniscayaan karena perusahaan tentunya menginginkan sumber daya manusia terbaik agar untuk memajukan usahanya. Oleh karenanya, dalam menghadapi hal itu lulusan perguruan tinggi hendaknya memiliki bekal yang cukup. Lulusan perguruan tinggi tidak hanya cukup berbekal dengan kemampuan akademis semata namun juga dituntut memiliki kepribadian yang jujur dan berintegritas, semangat untuk maju, serta pantang menyerah. Nilai-nilai universal inilah yang selalu ditanamkan kepada para alumni UII, terlebih mereka yang baru saja menamatkan studinya.
Demikian sebagaimana dipesankan oleh Rektor UII, Dr. Ir. Harsoyo, M.Sc ketika menyampaikan amanat rektor di hadapan 797 wisudawan UII dan para orang tua yang menghadiri wisuda periode IV tahun akademik 2014/2015 di Auditorium Kahar Muzakkir, kampus terpadu UII pada Sabtu (25/4). Wisuda ini diikuti oleh para lulusan dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari diploma III, sarjana, magister, dan doktor di program studi yang ada di UII. Hingga periode wisuda April ini, UII telah mencetak 76.959 alumni yang tersebar di berbagai bidang lapangan pekerjaan di seluruh wilayah Indonesia.
Sebuah momen istimewa yang berlangsung dari wisuda periode ini adalah diraihnya pin emas oleh tiga orang wisudawati sekaligus karena nilai IPK mereka yang sama, yakni 3,95 (tiga koma sembilan lima). Ketiga mahasiswi tersebut, masing-masing adalah Provita Justisia, Risky Edi Nawawi, dan Petria Nuraini yang ketiganya merupakan mahasiswa Fakultas Hukum, Program Studi Ilmu Hukum.
Sedangkan waktu tempuh studi tercepat, berhasil diraih Retno Manggaharti, mahasiswi dari Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya pada Program Studi Psikologi, dengan masa studi tiga tahun dua bulan. Setidaknya 221 wisudawan pada periode kali ini berhasil meraih predikat cumlaude.
Ditambahkan oleh Dr. Harsoyo bahwa selepas menyelesaikan studi adalah waktu di mana para wisudawan akan menerapkan nilai-nilai yang pernah mereka dapatkan di kampus. “Selama saudara menempuh pendidikan di UII tentunya tidak hanya mendapat bekal pengetahuan akademis saja, namun saudara juga belajar banyak hal lain, seperti etos kerja Islami dan nilai-nilai UII. Saya harap ini akan terus dipelihara”, tegasnya.
Wisuda UII juga dihadiri oleh perwakilan alumni yang turut memberikan sambutan. Perwakilan alumni UII yang hadir adalah Restu Satriotomo, SE, MBA alumni Prodi Manajemen, Fakultas Ekonomi tahun 2000 yang kini berkarir di The Bank of Tokyo Mitsubishi UFJ, Ltd.
Alumni muda yang sudah malang melintang di berbagai negara ini berpesan agar para wisudawan UII menyambut masa depan dengan sikap optimis dan komitmen bekerja dengan sepenuh hati. “Pengalaman saya bekerja dengan berbagai orang dari bangsa yang berbeda memberi pelajaran bahwa saudara harus mampu menunjukkan ketekunan yang tak kenal lelah. Sebab ketekunan-lah yang akan menuntun pada kesuksesan. Orang yang tekun dapat menang dari orang yang pandai namun tidak konsisten”, jelasnya.

Rabu, 11 Februari 2015

Peduli Keberadaan Sungai, FTSP UII Gelar Diskusi Restorasi Sungai Indonesia

Kondisi sungai saat ini khusunya di wilayah perkotaan telah mengalami degradasi yang sangat cepat. Degradasi sungai tampak bagaimana dari sisi kualitas air juga dari sisi kerusakan fisik sungai itu sendiri. Sementara kerusakan fisik sungai saat ini terlihat dari luasannya yang semakin mengecil dan sudah semakin banyak yang erosi. Kondisi ini diantaranya dikarenakan keberadaan sungai sudah banyak tereksploitasi dengan urusan manusia, khusunya di wilayah perkotaan. Hal ini kemudian menyebabkan kualitas air menurun, keulaitas ekosistem menurun, kualitas fisik menurun dan semakin rusak.
Demikian diungkapkan Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) UII, Dr. Ing. Ir. Widodo Brontowiyono, M.Sc. pada pelaksanaan diskusi Restorasi Sungai Indonesia, yang diadakan di Gedung Auditorium FTSP UII, Rabu (11/2). Turut hadir pada diskusi yang mengangkat tema “Mewujudkan Satu Sungai Satu Kelembagaan Sebagai Tahap Penting Restorasi Sungai Indonesia”, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Serayu-Opak, Dr. Agus Suprapto, pemerhati dan penggiat Sungai Code Totok Pratopo, Dosen FH UII Zairin Harahap, SH, MH. serta dari berbagai komunitas pegiat sungai di Wilayah DIY.
Dikatakan Dr. Widodo Brontowiyono, model pengelolaan sungai yang dilakukan seperti di wilayah DIY saat ini masih lebih cepat bila dibandingkan dengan proses kerusakannya. Selain itu, fenomena yang terjadi saat ini adalah sungai-sungai kecil terutama yang berada di wilayah DIY belum sepenuhnya mendapatkan perhatian dari pihak pemerintah. Hal tersebut menurut Dr. Widodo Brontowiyono sebenarnya dapat diatasi bila pola kerjasama antara pusat dan daerah dapat terlaksana dengan baik.
Merujuk pada PP No 38 Tahun 2011 tentang sungai, pengelolaan sungai di Indonesia dilakukan berdasarkan pembagian wilayah sungai. Sesuai peraturan tersebut, menurut Dr. Widodo Brontowiyono satuan wilayah sungai di DIY ditetapkan menjadi bagian dari Wilayah Sungai (WS) Serayu Opak. Sungai Serayu Opak mengalir melewati dua wilayah propinsi sehingga pengelolaan kedua sungai tersebut menjadi wewenang pemerintah pusat, yaitu Kementerian PU-PERA melalui BBWS-SO.
Fenomena lain di lapangan adalah besarnya perhatian masyarakat terhadap berbagai masalah yang terjadi di sungai melalui komunitas pegiat sungai. Kelompok-kelompok masyarakat tersebut selama ini menjadi pilar dalam berbagai kegiatan konservasi, pendayagunaan, dan pengendalian daya rusak. “Kehadiran komunitas tersebut sebenarnya sangat membantu tugas pemerintah dalam melakukan pengelolaan sungai. Persoalan yang timbul saat ini adalah komunitas tersebut tidak memiliki kekuatan hukum dalam konteks pengelolaan sungai,” paparnya.

Mahasiswa UII Diharapkan Aktif Jalin Hubungan dengan Komunitas Akademik ASEAN

Gaung bergulirnya Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 semakin menguat seiring dengan semakin dekatnya kesepakatan regional tersebut diimplementasikan. Dalam MEA 2015 tidak hanya ditekankan pada penguatan kerjasama ekonomi, namun aspek lain yang juga ditonjolkan adalah kolaborasi pengembangan bidang pendidikan dan kebudayaan di antara sesama negara ASEAN. Oleh karena itu, sudah menjadi keniscayaan bahwa para pelajar dan pemuda ASEAN dituntut untuk aktif dalam menjalin hubungan dengan rekan mereka di negara ASEAN lainnya. Hal tersebut dapat diupayakan lewat berbagai cara, salah satunya adalah terjun dalam konferensi pelajar dan pemuda ASEAN yang rutin diselenggarakan setiap tahunnya oleh pemerintah di tiap negara ASEAN secara bergilir.
Sebagaimana telah dilakukan oleh para mahasiswa UII yang aktif menyambut peluang ini. Beberapa mahasiswa UII belum lama ini mengikuti konferensi serupa yang diadakan di dua negara ASEAN, yakni Malaysia dan Filipina. Keterlibatan mereka dalam konferensi tersebut bukan sekedar untuk menambah catatan portofolio, melainkan sebagai bentuk kontribusi para pemuda Indonesia dalam kegiatan pengembangan dan pemberdayaan kapabilitas pemuda di tingkat ASEAN.
Empat orang mahasiswa UII yakni Jaka Farid Agustian, Sindi Novriana, dan Noer Ayufika Nulul dari Prodi Ilmu Komunikasi serta Roslifa dan Asrah Wadjo dari Prodi Psikologi menjadi salah satu perwakilan Indonesia dalam konferensi pemuda bertajuk “Forging 1-ASEAN Youth Network Through Volunteerism”. Konferensi tersebut merupakan bagian dari Asean University Youth Summit (AUYS) 2015 yang diselenggarakan di Universiti Utara Malaysia.
Selama konferensi, keempatnya aktif mengikuti kegiatan diskusi dengan para peserta lainnya serta terjun dalam Community Engagement Programme ke sekolah-sekolah yang berada di FELDA Bukit Tangga yang merupakan sebuah Desa Binaan Universiti Utara Malaysia.
Menurut dua orang mahasiswa UII, Jaka Farid Agustian dan Roslifa, sudah saatnya mahasiswa Universitas Islam Indonesia berani untuk aktif dalam pergaulan komunitas akademik di level ASEAN. Selain sebagai bentuk internasionalisasi kampus, hal ini tentunya sangat positif karena mereka dapat memperluas networking dan menambah pengalaman yang kelak dapat bermanfaat di dunia kerja.
“Kami berharap ke depan UII pun dapat memfasilitasi kegiatan-kegiatan akademik yang melibatkan negara-negara ASEAN serta terus mengembangkan kerjasama dengan universitas-universitas di ASEAN”, ungkap keduanya.
Jadi Presentator dalam Konferensi Pelajar ASEAN di Manila, Filipina
ImageTerpisah, pengalaman menarik diperoleh oleh mahasiswa UII ketika ia didaulat menjadi salah satu presentator dalam ajang ASEAN Youth Summit (AYS) yang digelar di Kampus De La Salle University, Manila, Filipina. Dalam konferensi yang diikuti 250 delegasi pemuda ASEAN tersebut, M. Masri Hadiwijaya, mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi UII mewakili kelompoknya untuk mempresentasikan hasil diskusi mereka terkait tema penguatan kapasitas pemuda ASEAN.
Ke depan keterlibatan aktif para mahasiswa UII dalam ajang positif semacam ini perlu terus didorong oleh segenap stakeholder di lingkungan UII, baik oleh pimpinan universitas, fakultas, maupun prodi. Sebab dalam konteks internasionalisasi pendidikan, UII harus dapat menunjukkan kontribusi positif dari para sivitas akademikanya untuk berdiri sejajar dengan universitas ternama lainnya di level ASEAN.

Selasa, 10 Februari 2015

Teknik Fotografi Malam atau Pada Cahaya Rendah

Ada beberapa teknik fotografi digital untuk malam hari dan pada cahaya rendah. Gunakan  fitur built-in kamera digital anda untuk mengambil foto dramatis dalam kondisi gelap atau cahaya rendah. Sebelum memulai memotret pada malam hari atau pada saat cahaya rendah, berikut adalah beberapa hal yang paling penting untuk diingat:

    Non-aktifkan flash

Membawa keluar detail yang menakjubkan dalam kondisi cahaya rendah dengan menggunakan long exposure (waktu yang dibutuhkan kamera untuk mengumpulkan cahaya) kemudian pilih Flash dari menu capture, lalu pilih Flash off. Tekan Menu / Ok.

    Gunakan tripod

Eksposur panjang atau long exposure membutuhkan sebuah pegangan kokoh pada kamera untuk menghindari blur. Sebuah tripod sangat membantu. Jika tidak mempunyai atau tidak membawanya, anda dapat mencoba bersandar pada obyek yang kokoh seperti pohon, atau dinding.

    Gunakan timer

Meskipun ketika kamera menggunakan tripod, saat jari menekan tombol shutter, ini dapat menyebabkan gerakan yang cukup untuk membuat kamera bergoyang dan menghasilkan gambar blur. Anda dapat menghindari menyentuh kamera sama sekali dengan menggunakan timer. Pilih Timer dari menu capture lalu tekan Menu / Ok. Saat ingin mengambil gambar, anda harus menyesuaikan pengaturan kamera. Kunci untuk mendapatkan gambar yang bagus saat malam atau pada cahaya rendah adalah dengan bukaan lebar, ISO rendah, dan shutter speed rendah.

    Shutter Speed

Karena tidak menggunakan flash, shutter speed harus jauh lebih rendah untuk mendapatkan cahaya yang cukup. Pilih mode pemotretan baik Tv (shutter priority) atau M (Manual) pada kamera untuk menyesuaikan shutter speed. Shutter speed terendah pada kebanyakan kamera berkisar dari beberapa detik untuk pengaturan “bulb” (shutter tetap terbuka selama yang diinginkan). Beberapa kamera digital mempunyai fitur pemotretan modus malam. Ini secara otomatis menonaktifkan flash dan menggunakan waktu eksposur yang lama.

    ISO

ISO pada kamera menentukan kepekaan terhadap cahaya. ISO yang lebih tinggi akan membuat kamera anda lebih sensitif terhadap cahaya, tetapi akan menambah grain lebih banyak atau noise pada foto. Jika kamera anda terdapat pengaturan ISO, aturlah pada angka rendah(sekitar 50,100 atau 200) untuk detail tajam dalam cahaya rendah. Pengaturan ini akan sedikit meningkatkan waktu exposure, tetapi akan menghasilkan foto yang jauh lebih baik.

    Bukaan atau Aperture

Jika kamera anda memiliki settingan manual, anda dapat memperluas bukaan untuk memungkinkan banyaknya cahaya masuk melalui lensa kamera yang sangat penting saat malam hari atau ketika tidak ada banyak cahaya. Pilih mode pemotretan baik Av (Aperture Priority) atau M (Manual) pada kamera untuk menyesuaikan bukaan / aperture. Bukaan terlebar untuk kebanyakan lensa adalah F2.8.

Spot Metering



           Selanjutnya sobat ada spot metering. Sobat pasti tahu kamera analog apa yang menggunakan jenis metering ini, yaitu Pentax Spotmatic SPSpotmatic SP II dan Spotmatic SPF. Kamera analog Pentax dengan lensa screw mount (ulir) ini diproduksi pada tahun 60an dan 70an, sebelum Pentax K mount bayonet (K1000, KM, K2, KX) muncul. Namanya diambil darireflective metering yang digunakannya. Sebenarnya Partial metering dan Spot metering beroperasi dengan basic yang sama, yaitu cahaya di bagian yang jauh lebih kecil dari objek gambar (biasanya tengah) diukur dan exposure diatur berdasarkan bacaan tersebut. 
  • Spot metering mengukur cahaya di daerah yang sangat kecil dari frame. Umumnya mungkin 1-5% tepat di pusat gambar, sedangkan partial 10-15%. Hanya itu perbedaan di antara keduanya.
  • Keunggulan reflective metering jenis ini adalah mengukur cahaya yang sangat akurat karena tidak akan dipengaruhi oleh cahaya lain di dalam frame.  
  • Bila sobat menggunakan kamera dengan jenis metering ini, sobat akan mendapatkan kontras yang tinggi/bagus dan exposure yang lebih spesifik. 
  •  Oleh karena itu, bila sobat memotret bulan atau benda-benda yang ada di langit lainnya menggunakan kamera dengan jenis metering ini, hasilnya akan bagus karenaexposure yang dihasilkan sangat akurat.
Kapan menggunakan Spot metering?
       Spot metering biasanya banyak digunakan oleh fotografer profesional, terutama dalam keadaan back lit tanpa hasilnya menjadi silhouette (siluet). Spot metering juga digunakan untuk objek yang relatif berjarak jauh atau biasanya digunakan untuk fotografi makro, terutama jika objek tidak mengisi seluruh frame. Akan tetapi sobat harus benar-benar memperhatikan jika menggunakan jenis reflective metering ini, karna walaupun sobat mendapatkan gambar dengan objek yang terekspos dengan baik, sobat juga bisa kehilangan sisa dari jepretan. Beberapa contoh momen yang baik jika menggunakan spot metering akan admin berikan. Cahaya pada objek sobat merata dan menyala tetapi lebih bagus jika objek sobat kontras warnanya. Misal, sobat memotret anjing berwarna putih dengan background gelap atau orang memakai pakaian hitam berdiri di depan gedung berwarna putih. Contoh yang paling baik, yakni terang bulan pada malam hari dengan latar belakang langit yang sangat gelap. Jika sobat menggunakan matrix metering untuk menangkap bulan dalam situasi demikian, yang akan sobat dapatkan adalah lingkaran putih terang tanpa detail apapun. 
       
    Contoh kamera analog yang menggunakan spot metering dapat ditemukan di: 
    • Pentax Spotmatic SP, SPII, SPF, ZX-5N, MZ-S
    • Minolta Auto Spot 1, Minolta SR-T 102, XG-1
    • Nikon F4, F5, F100, N70, N75, N80, N90
    • Canon A2E, Canon T90
    • Olympus Om-4
    • Soligor
    • Seconic  
    • Gossen.

      contoh Spot metering kamera analog
      Contoh Spot Metering

      contoh pembacaan Spot metering kamera analog
      Pembacaan Spot Metering

            Jadi secara keseluruhan kamera analog memiliki empat pembacaan reflective metering yang berpengaruh di dalam penggunaan light meter dan mendapatkan exposure yang baik. Pembacaan tersebut adalah evaluative, center weighted, partial dan spot metering.

      macam-macam reflective maatering kamera analog


             Center-weighted, partial dan spot metering, ketiganya mengambil pembacaan exposure dari pusat frame. Hal tersebut mengingat bahwa kebanyakan fotografer selalu menempatkan objek mereka di tengah frame. Bila sobat ingin belajar mendapatkan komposisi yang bagus, mungkin ketiga pembacaan tersebut bisa diandalkan. Untuk mendapatkan komposisi yang bagus tidaklah mudah sobat. Akan tetapi sobat jangan sampai terjebak dan selalu menempatkan objek di pusat frame, karena sobat masih dapat mengeksplor kemampuan sobat dengan menempatkan objek di lain tempat. Sedangkan evaluative metering dikembangkan oleh produsen kamera untuk memudahkan kita mendapatkan exposure dengan objek di tengah frame. Kamera akan membagi viewfinder menjadi zona-zona dan membandingkan pembacaan exposure dari setiap zona dan menyarankan pengaturan exposure yang harus digunakan.

      Partial metering

       Partial Metering
      •  Pengukuran cahaya dengan jenis reflective metering ini menganalisis dan mempertimbangkan cahaya di daerah yag lebih besar dari objek sobat, sekitar 10 atau 15 % dari frame. Berawal dari pusat bagian depan dan melebar ke luar.
      •  Reflective metering jenis ini sangat bagus bila sobat gunakan ketika mendapatkan momen dengan kontas yang tinggi. Misalnya, objek yang sobat foto adalah orang yang berdiri membelakangi sunset dimana berarti menghadap sobat dan sunset sebagaibackground. Dalam situasi demikian, cahaya sunset akan ekstra terang dan sebaliknya wajah objek foto sobat akan jauh lebih gelap karena back light. Bila sobat menggunakan kamera analog yang menggunakan partial metering, sobat akan bisa  mendapatkan pembacaan di wajah objek tanpa metering kamera sobat dipengaruhi oleh cahaya sunset yag terlalu cerah.  
      Contoh kamera analog yang menggunakan partial metering ditemukan di:
      • Nikon N50, N55, N60, N65
      • Partial Metering paling banyak ditemukan pada Canon, seperti Canon F-1, Canon Elan II E, Elan 7 E dll

        Center Weighted Metering



             Seperti yang telah admin jelaskan di atas, bahwa Nikon adalah pelopor dari kamera analog yang menggunakan Center Weighted Metering sejak tahun 1960-an dan diikuti oleh kamera-kamera analog lainnya. Terutama kamera analog full manual yang menggunakan pembacaan jenis ini. Dengan sistem ini, exposure dihitung berdasarkan intensitas cahaya di pusat area gambar. Pembacaan ini sangat handal bila menggunakan lensa standar, dengan asumsi objek menempati daerah pusat frame. Pembacaan ini hampir sama dengan matrix metering, tetapi pembacaannya dilakukan dari area yg lebih kecil/sempit. 
        • Pembacaan reflective metering ini memfokuskan diri sekitar 60-80% pada bagian pusatviewfinder, sisanya area yang berada di pinggir frame akan dikesampingkan.
        •  Keuntungannya adalah pembacaan ini tidak dipengaruhi oleh kedaan langit dan area kecil di sekitar tepi ftrame yang memiliki tingkat kecerahan beragam.
        • Gunakan kamera dengan pembacaan jenis ini bila sobat ingin mengambil gambar close-up atau objek yang relatif besar/lebar yang berada di tengah frame.
        Kapan harus menggunakan Center-weighted metering?
               Center-weighted metering sangat baik digunakan bila sobat ingin mengambil gambar close-up dan portrait dimana objek relatif lebar. Sehingga metering melakukan pembacaan dengan menitik-beratkan langsung pada objek dan mengurangi pengeksposan pada backgroundReflective metering jenis ini lebih mudah untuk diprediksi daripada evaluative/matrix metering sehingga sobat akan mendapatkan hasil yang loebih konsisten. Misal contoh momennya, bila objek yang sobat ingin ambil tertembak oleh cahaya penuh dari matahari dan sobat ingin fokuskan hasilnya di objeknya, seketika pula kontras yang tinggi akan sobat dapatkan di objeknya dari background-nya. 
          Contoh kamera analog dengan center weighted metering ditemukan di:
          • Nikon FM, Nikon FM2 non honeycomb, Nikon F2 Photomic, FG, FE, F3, F4, F5 
          • Canon T70, Canon A-1
            contoh Center weighted metering kamera analog
            Contoh Center Weighted Metering

            POengertian Evaluative



                Evaluative, terkadang disebut juga pattern, multi-segment atau matrix metering. Pembacaan matering ini bekerja dengan membagi scene menjadi banyak segmen yang berbeda-beda dan menganalisis pembacaan cahaya dari masing-masing segmen untuk mencapai exposure terbaik. Contoh kamera analog yang menggunakan reflective metering jenis ini, yaitu Nikon FA dan kamera-kamera analog yang memiliki shutter honeycomb
            • Pembacaan metering ini adalah reflective metering standard yang ada di hampir semua kamera analog yg sudah ada elektroniknya, sebelum Nikon membuat Center Weighted Metering, karena paling mudah untuk digunakan.
            • Reflective metering ini mempertimbangkan intensitas cahaya di beberapa titik dalam scene, dan kemudian menggabungkan hasilnya untuk exposure terbaik. 
            • Pada kamera analog pembacaan ini  terkait dengan titik fokus pada saat kita ingin mengambil gambar dari sebuah objek. Sehingga kamera nantinya akan membias metering menuju daerah di sekitar titik fokus. 
            • Evaluative metering sangat mampu dalam melakukan pembacaan, bahkan dapat memperhitungkan warna dan jarak objek. Akan tetapi terkadang salah melakukan pembacaan dalam kebanyakan situasi.  
            • Kamera analog dengan pembacaan ini sangat bagus untuk landscape dan portrait.  
            Kapan harus menggunakan Evaluative/matrix metering?
                   Evaluative/matrix metering baik digunakan jika sobat mendapatkan momen dimana cahaya terlalu mencolok sehingga sobat agak bingung dalam menggunakan light meter. Jenis reflective metering ini juga sangat baik digunakan jika sobat membutuhan pembacaan metering dan menangkap gambar dengan cepat, karena evaluative metering bekerja menggunakan zona-zona.
              Contoh kamera analog dengan evaluative metering ditemukan di:
              • Canon FT, FT QL, FTB, A-1, AT-1, AE-1 dll
              • Nikon FA, Nikon FM2 honeycomb, FM3A honey comb, F4, F5, F100 dan semua Nikon SLR AF
              • Leica R8 
                contoh matrix matering pada kamera analog
                Contoh Evaluative/matrix metering